Maknai Hidup

Hidup ini selalu berwarna, kita tidak bisa menentukan warna hidup kita, tapi kita mewarnai hidup kita, SELAMAT MEWARNAI

Belajar dan Belajarlah

Orang yang hidup itu selalu belajar, kalau tidak mau lagi belajar, maka bersiaplah untuk mati

Tidak ada yang tidak mungkin selama engkau punya Allah

Ketika engkau bertekad menjadi orang yang lebih baik lagi maka Allah akan mendatagkan orang – orang baik di dalam hidupmu untuk menemani langkahmu, Maka Berdolah di dalam setiap Langkahmu

Sukses adalah sebuah kegagalan yang berakhir indah

Wujudkan impianmu jangan takut gagal, karena jika gagal itu artinya lebih baik kamu telah berusaha mengusahakannya daripada tidak sama sekali. Selamat Mencoba

Bersahabatlah dengan Tulus

Sahabat yang baik, akan menegur ketika kita berbuat kesalahan meskipun harus melalui pertengkaran dan perselisihan karena rasa kasih sayangnya

KPI Korwil Sumut

Komunitas Parkit Indonesia Wilayah Sumatera Utara

Tampilkan postingan dengan label UIN SU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UIN SU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2019

AL-MANAR DI ANTARA MUSLIM EMPIRE RUSIA (Catatan Penelitian Pendahuluan tentang Riza al-Din b. Fakhr al-Din dan Mura (1908–1918))


A. Identitas Publikasi
1.      JUDUL BUKU             : Intellectuals In The Modern Islamic World
2.      PENULIS                      : Stéphane A. Dudoignon, Komatsu Hisao, dan
  Kosugi Yasushi
3.      PENERBIT                    : Routledge
4.      Tahun Cetak                   : 2006
5.      Tebal Halaman               : 375 Halaman
6.      ISBN                              : 0–415–36835–9 (hbk);  0–203–02831–7 (ebk)
7.      JUDUL ARTIKEL        : Echos to Al-Manar Among The Muslim of
  Russian Empire; A preliminary research note on
  Riza al-Din b. Fakhr al-Din and the Mura (1908–
                                                  1918) by Stéphane A. Dudoignon

B. Ringkasan Isi
Muslim dari Volga Tengah telah diserahkan kepada otoritas Rusia sejak pertengahan abad keenam belas. Mereka kemudian menghadapi kampanye kristenisasi berturut-turut, terutama selama abad kedelapan belas.
Dalam konteks sosial tertentu dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ditandai dengan konfrontasi keseluruhan dari agama Kristen dan Muslim, surat kabar dan jurnal dari bagian tengah dunia Islam mulai didistribusikan secara luas di wilayah-wilayah ini, walaupun tidak teratur dan untuk berbagai derajat dari satu lokasi ke lokasi lain. Di antara majalah-majalah ini, al-Manar menikmati status khusus. Selama periode singkat liberalisasi politik relatif, yang berlangsung dari revolusi 1905 hingga awal perang saudara pada musim dingin 1917, jurnal dari dunia Islam yang jauhlah yang paling sering dikutip, diterjemahkan, dan dikomentari di pers komunitas Muslim Sunni dari Kekaisaran Rusia
Beberapa kalangan intelektual Muslim Rusia Eropa bahkan menganggap al-Manar sebagai model yang harus diikuti. Persepsi ini memunculkan penciptaan salinan Turki atau emulasi itu: jurnal Sura (Dewan), diedit dalam bahasa Tatar ottomanized di selatan kota Uralian di Orenburg oleh  Riza al-Din b. Fakhr al-Din (1859–1936).
Sura menjadi salah satu perusahaan editorial paling signifikan dari seluruh pers Muslim di Rusia, dari penciptaannya pada Januari 1908 hingga penindasannya oleh kaum Bolshevik tepat sepuluh tahun kemudian pada Januari 1918.
Karya-karya al-Afghani, Abduh, dan Rashid Rida sebagian besar dibahas pada tahun 1900-1910 di antara komunitas Muslim Kekaisaran Rusia, terutama melalui terjemahan dari dan mengomentari Manar. Ini terutama terjadi oleh kaum protagonis dari seluruh spektrum reformis, kepada siapa Mura menawarkan platform yang unik selama dekade terakhir periode Kekaisaran. Hubungan ideologis antara berbagai aliran pemikiran sama rumitnya di Rusia atau Asia Tengah seperti halnya di Mesir atau Kekaisaran Ottoman selama periode transisi itu, dan kategori-kategori seperti modernisme dan tradisionalisme ("Jadidisme" dan "Qadimisme" dalam kasus Rusia) seringkali tumpang tindih. Secara signifikan, Manar bahkan lebih sering dikutip, diterjemahkan, dan dikomentari dalam jurnal yang konon konservatif (jika tidak reaksioner) Din wa maimat dari Orenburg, daripada jurnal lain dari pers Muslim Kekaisaran Rusia termasuk Mura. Studi lebih lanjut harus fokus pada berbagai gema untuk al-Manar di komunitas Muslim Rusia, yang bisa memberi cahaya baru pada varietas strategi modernisasi.
Alusi kepada al-Manar dalam pers Muslim di Rusia memang jauh lebih banyak daripada rujukan kepada kaum Muslim Kekaisaran Rusia di al-Manar. Jika kita mempertimbangkan substratum intelektual Muslim Rusia yang kaya pada akhir abad ke-19, kekuatan proses re-Islamisasi, dan keterbukaan dan dinamika pers Muslim pada tahun 1905–1917, hubungan yang tidak simetris antara Mura dan model yang Manar tidak selalu berbicara dalam mendukung yang terakhir
Pengaruh Abduh tampaknya tumbuh bersama kaum intelektual Azharian muda, yang dipolitisasi dengan cepat setelah tahun 1905, sementara pengaruh Manar diperoleh dalam milisi ulama yang diorganisasikan di sekitar madrasah reformis utama dan di sekitar pers masyarakat. Kita hanya bisa membayangkan apa yang akan menjadi evolusi Mura setelah 1917: ini bisa menjadi subjek penelitian lebih lanjut tentang evolusi pribadi Riza al-Din b. Fakhruddin selama dekade-dekade awal periode Soviet.
Para pemimpin spiritual Muslim awal abad ke-20 di Rusia Eropa, modernisasi, dan bahkan transisi dari umma ke negara, tidak harus pergi dengan atau melalui sekularisasi. Bahkan bisa berarti sebaliknya, sebuah modernisasi melalui Islamisasi (atau re-Islamisasi), sejauh hukum dan peraturan Kekaisaran Rusia tidak menawarkan alternatif yang benar-benar memuaskan. Meskipun peran kekuatan kolonial tidak boleh dibesar-besarkan dalam sejarah Islam pada abad ke-19 dan ke-20, kasus Mura dan pemahamannya tentang al-Manar menunjukkan pada kita di mana dan di mana mengukur dominasi yang tahan lama. sebuah negara Kristen dengan kebijakan diskriminasi kepercayaan bisa mengarahkan strategi pengembangan minoritas Islam. Ini harus mendorong para peneliti untuk mencoba menempatkan kembali Mura dalam sejarah sensibilitas, dan untuk berurusan dengan dokumen yang luar biasa ini sebagai sumber untuk persepsi agama, etika, dan hubungan antar-agama dalam konteks negara kolonial, dalam periode ekspansi spektakuler kapitalisme.
Pendekatan seperti itu juga akan memungkinkan pengamat eksternal untuk memahami mengapa para pemimpin gerakan Islam saat ini di seluruh Eropa membaca sekarangawal abad kedua puluh Mura dengan keingintahuan baru. Meskipun ditafsirkan kembali oleh otoritas pasca-Soviet di wilayah Volga-Ural dengan cara sekuler murni, dan dalam kerangka logis dari ideologi lama “persahabatan rakyat,” Riza al-Din b. Karya Fakhr al-Din harus diganti dalam konteks aslinya dari konfrontasi keseluruhan antara Islam dan Kristen. Ini dapat membantu menjelaskan mengapa "Jadidisme" begitu sering disesuaikan oleh para pendukung kontemporer dari sosialisasi politik dan sosial di bekas Uni Soviet.

C. Analisis Artikel
Al-Manar, bagaimanapun, meluas jauh melampaui dunia mayoritas Muslim, hingga ke Turki komunitas Muslim yang berbicara tentang Volga Tengah dan Ural Barat di utara, dan kepulauan Melayu-Indonesia di timur. Stéphane A. Dudoignon melacak peran teolog Tatar-Bashkir yang berpengaruh dari Ural selatan, Riza al-Din b Fakhr al-Din (1859–1936), yang jurnalnya Mura adalah salah satu perusahaan paling signifikan dari pers otonom “Muslim” Rusia, dari yayasannya pada tahun 1908 hingga penindasannya oleh kaum Bolshevik pada awal 1918. Sebagian besar dijadikan model al-Manar, jurnal Riza al-Din dikontekstualisasikan dalam jaringan sekolah madrasah, siswa yang kembali dari studi di al-Azhar, dan beberapa jurnal otonom lainnya dari komunitas Muslim di Kekaisaran Rusia. Semua aktor ini berpartisipasi dalam wacana yang hidup tentang masyarakat, hubungan dengan Ch Rusia negara ristian, dan akses ke modernitas. Alih-alih secara pasif menyerap ajaran reformis Afghan dan 2Abduh dari al-Manar, komunitas Islam di wilayah ini secara aktif mendiskusikan pencarian mereka akan bentuk modernitas asli.

Sabtu, 27 April 2019

Pembentukan dan Perkembangan Tasawuf

Tasawuf dalam dunia Islam baru akhir-akhir ini dipelajari sebagai ilmu, sebelumnya dipelajari sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.  Manusia pada dasarnya adalah suci, maka kegiatan yang dilakukan oleh sebagian manusia untuk mensucikan diri merupakan naluri manusia. Usaha yang mengarah kepada pensucian jiwa terdapat di dalam kehidupan tasawuf.
Ada beberapa alasan tentang lahirnya tasawuf, Pertama, bahwa spritual sufisme membawa ekstrimitas pada spritual “kasyfi” yang cendrung ujungnya berakhir pada wihdatul wujud. Kedua, spritualisme sufisme juga tidak bisa melepaskan diri dari ekstrimitas yang berorientasi pada pemenuhan nafsu egosentris dalam melakukan hubungan dengan Allah. Ketiga, tasawuf cendrung ke tareqat yang melembaga dengan ekstrimitasnya tersendiri.
Dalam tasawuf terdapat tipologi, yaitu akhlaqy yang bermakna membersihkan tingkah laku, amaly yang bermakna menjadikan diri kita bersih lahir-batin, dekat dengan Allah, menjadi sahabat dan kekasih Allah sekaligus dekat dengan umat dan falsafy yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional.
Tarekat berkembang secara pesat di hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perkembangan tarekat yang pesat membawa dampak positif bagi perkembangan dakwah. Walaupun sufisme mendasarkan ajarannya pada alquran dan as-sunnah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perkembangannya, esoterisme Islam ini memasukkan unsur-unsur asing dari luar. Keberadaan unsur-unsur asing dalam tasawuf ini membuat para orientalis dalam membahas tentang tasawuf sering mengesankan ketidakaslian sufisme berasal dari Islam.
Tasawuf mulai masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia dan tasawuf mengalami banyak perkembangan itu ditandai dengan banyaknya berkembang ajaran tasawuf dan tarikat yang muncul dikalangan masyarakat saat ini yang dibawah oleh para ulama Indonesia yang menuntut ilmu di Mekkah dan Madina kemudian berkembang. Hawash Abdullah menyebutkan Syekh Abdullah Arif yang menyebarkan untuk pertama kali di Aceh sekitar abad ke-12 M.  Dengan beberapa mubalig, diantaranya: Hamzah Al-Fansuri, Al Palembani dan Hamka.

Untuk lebih lanjut silahkan di download disini

Minggu, 14 April 2019

CBR : Programmable Logic Design Quick Start Handbook

A. IDENTITAS BUKU       

Judul Buku                  : Programmable Logic Design Quick Start Handbook
Penulis                         : Karen Parnell and Nick Mehta
Halaman                      : 189 Halaman
Penerbit                       : Xilinx Inc, 2003

Buku ini menjelaskan tentang bagaimana program sebuah software (piranti lunak) yang digunakan dalam men-design (merancang). Program ini menawarkan fleksibilitas yang tinggi untuk para desainer, perangkat logika yang diprogram dapat memberikan keuntungan dan integrasi dalam mendesain. Program ini juga sangat  mudah digunakan untuk mendesain dan dapat diprogram ulang berkali-kali untuk meningkatkan sistem fungsional.
Buku ini sangat bermanfaat karena dilengkapi dengan tutorial dan sebagai sumber informasi dari banyak desain logika yang dapat diprogram.  Buku ini juga menjelaskan secara rinci bagaimana cara menggunakannya, cara melakukan meng-instalasi program tersebut, serta bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilakukan dan secara sistematis untuk mengambil sebuah entri design. Buku ini ditulis untuk tenaga profesional yang belum pernah merancang sebuah design dengan menggunakan perangkat logika.  


B. REVIU BUKU    

Uraian yang dibahas pada setiap bab adalah penjelasan untuk masuk pada tahapan yang akan dilakukan pada sub bab. Adapun pada tahapan dalam bab 5 adalah tahapan dimana kita sudah berhasil mensimulasikan sebuah desain, tahap berikutnya adalah mensintesis dan mengkonversi kepada Desain berbasis teks ke sebuah file NGC netlist. Pada tahap implementasi dalam menggunakan netlist dan file, kendala untuk membuat ulang desain untuk menggunakan sumber daya yang tersedia dalam CPLD. Batasan dalam fisik atau waktu,  biasanya digunakan untuk pengaturan frekuensi desain yang dibutuhkan atau mendeklarasikan pinout yang diperlukan. Jika pemeriksaan UCP tidak konsisten, maka akibat dalam tahap ini adalah mempersiapkan yang disintesis untuk digunakan dalam CPLD.
Selanjutnya adalah mendistribusikan desain ke sumber daya di CPLD dan tempat-tempat sumber daya tersebut sesuai dengan batasan yang ditentukan. Tentunya, jika desainnya terlalu besar untuk perangkat yang dipilih, maka prosesnya tidak akan dapat menyelesaikan tugasnya. Langkah-langkah dalam mengimplementasinya harus dilakukan secara berurutan. Perangkat lunak WebPACK ISE akan secara otomatis untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan.
            Dalam bab ini dijelaskan langkah, contoh, dan gambar serta penggunaan script, sehingga mempermudah didalam penggunaannya. Permasalahan dalam bab ini adalah jika tidak mengikuti sistematika pada program ini, maka kita akan sulit menggunakan, mengimplemtasikan dan melanjutkan pada bagian berikutnya.
            Kelemahan pada buku ini adalah program ini tidak dapat digunakan pada sistem operasi windows 7, 8 dan 10, sehingga perlu ada upgrade program tersebut agar dapat digunakan. Program ini harus dilakukan secara teliti karena bahasa script pada program ini tidak boleh terjadi kesalahan, sehingga ketika salah memasukan script nya harus di cek dari awal lagi. Pada bab ini tidak dijelaskan apabila program ini mengalami trouble shooting , sehingga kita tidak tahu bagaimana menyelesaikan program ini.



C. STUDI KELAYAKAN  

Ketika membaca bahasan yang terdapat buku panduan ini, menurut saya buku ini diperlukan pembelajaran khusus untuk para design. Program ini sangat relevan dan layak untuk digunakan untuk dikalangan profesional yang aktif dibidang design dan teknologi komputer. Buku ini memberikan urutan dan penjabaran pada setiap materinya. Uraian ini dilengkapi navigasi untuk mempermudah designer untuk menggunakan softaware ini sehingga dengan mudah memahami dan menggunakannya.
            Sistematika dalam buku ini sangat rinci karena disertai bagaimana arah dari proses penggunaan program ini, dimulai dari instruksi sampai dengan instalasi serta menggunakan program ini.. Sedangkan gambar dari uraian topik yang dijabarkan sangat mendukung mempertajam setiap pembahasan, sehingga tujuan dari mempelajari dapat dipahami dengan sangat mudah. Jika rincian dengan sistematika seperti ini, bisa dijadikan contoh untuk semua pembelajaran dalam bidang apa saja bukan hanya komputer. Buku ini juga memberikan konsep pemetaan secara terstruktur sehingga bisa mempertajam dan memperluas dalam memahami khazanah keilmuan.
           



Reviu Buku : Kolonialisme dan Pembentukan Elite Muslim Baru

A. Identitas Publikasi
1.      JUDUL BUKU          : Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam
  Sejaran Indonesia
2.      PENULIS                   : Jajat Burhanudin
3.      PENERBIT                 : Mizan Media Utama
4.      Tahun Cetak                : Cetakan Pertama, 2012
5.      Tebal Halaman            : 481 Halaman
6.      ISBN                           : 978-979-433-691-5
7.      JUDUL ARTIKEL     : Kolonialisme dan Pembentukan Elite Muslim Baru

B. Ringkasan Isi
            Pada awal bab ini, dijelaskan bahwa komponen penting dalam pembentukan otoritas ulama pada peningkatan pemahaman Islam dan pencapaian kekuatan spiritual adalah mengintegrasikan Islam di Hindia Belanda ke dalam arus perkembangan Islam di Timur Tengah, pengalaman ulama Jawi yang belajar di Mekkah dan Sufisme.
             Kecendrungan intelektual yang dimulai pada abad ke-17 dan 18 semakin menguat pada abad ke-19 pada orientasi syariat, aktivisme tumbuh dan mewarnai diskursus masa itu. Dengan aktivisme ini, islam berorientasi-syariat mengambil bentuk gerakan protes melawan stabilitas politik yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda dan Mekkah dianggap sebagai sumber inspirasi bagi aktivisme anti-kolonial. Gerakan wahabi yang menjadi wadah intelektual dan politik islam di Makkah yang mengilhami munculnya gerakan reformis Islam pra-modern. Gerakan ini bercirikan menerapkan syariah secara tegas bahkan radikal karena terpengaruh ide-ide keagamaan Ibnu Taimiyyah yang menyerukan untuk kembali kepada Islam yang benar yang didasarkan ajaran Islam (alQuran dan Sunnah).
            Dari pemahaman ini, terjadi perlawanan Belanda disebabkan bukan saja terhadap kolonialisme tetapi juga perlawanan terhadap ideologi yang dilakukan Belanda, seperti gerakan Padri di Sumatera Barat (1807-1832), Perang Jawa (1825-1830), Pemberontakan Banten (1888), Perang Aceh (1873 – sekitar 1910). Dari beberapa contoh ini menggambarkan pentingnya peran ulama dalam ranah politik dalam aktivisme anti-kolonial, serta menjadi bukti sejarah yang menunjukkan peranan penting jaringan Timur Tengah terhadap kontribusi ideologi gerakan pemberontakan dan peranan penting ulama bersama pesantren dalam upaya pembaruan yang berorientasi-syariat.
Neo-sufisme menjadi salah satu elemen utama dari diskursus Islam beriorientasi syariat, mendorong umat muslim untuk lebih aktif terlibat dalam persoalan sosial-politik, sekaligus mengkritik aliran sufisme yang mendorong umat muslim untuk berjarak dengan urusan duniawi (‘uzla). Di bawah kekuasaan kolonial, semangat aktivisme ini berubah menjadi sebuah kekuatan sosial-politik yang memberi umat muslim ideologi-berbasis Islam untuk memberontak melawan kekuasaan kolonial.
 Ketika mendapatkan perlawanan yang begitu besar oleh kalangan ulama, pemerintah Belanda mencari jalan baru untuk melancarkan sebuah visi bagi perubahan masyarakat Hindia di masa depan dengan cara memberikan spirit liberalisme yang berarkar di Eropa abad ke-19. Gagasan ini dilakukan oleh Snouck Hurgronje yang mengarahkan perhatiannya kepada elit lokal yang diyakini akan dapat membawa masyarakat menuju situasi dimana mereka dan Belanda dapat hidup berdampingan. Adapun salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menjalankan visi ke Mekkah dengan tujuan untuk memahami jemaah haji Hindia yang senantiasa dicurigai sebagai kelompok yang bertanggungjawab dalam menyebarkan ideologi anti-Belanda. Selian itu juga, Snouck memfokuskan kepada pemuka adat, khusunya penghulu yang menyebabkan fragmentasi Islam di Belanda.
             Hal yang serupa juga dilakukan oleh K.F. Holle, menurutnya bahwa yang bertanggungjawab dalam menyebarkan paham fanatisme Islam di Hindia adalah para haji yang berangkat ke Mekkah, sehingga ia berusaha menarik para elite Priangan (kaum Menak) agar menjauh dari Islam dan semua bentuk unsur Islam-Arab. Adapun salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan mengganti tulisan Arab dengan tulisan Latin dan tidak mentoleransi pengaruh para haji dan ulama. Bahkan pengetahuan kolonial mengindetifikasikan penghulu dan ulama sebagai dua domain politik dan kultural yang berbeda dan terpisah, sehingga Holle berupaya untuk menjauhkan para penghulu dari pengaruh Islam dan Arab.  
Dalam sejarah dijelaskan bahwa para penghulu juga melakukan perjalanan intelektual yang sama dengan para ulama, berdasarkan catatan biografis sejumlah penghulu dipercaya  tentang bacaan luas para penghulu terhadap kitab-kitab terkenal. Hal inilah yang menunjukkaan bahwa pengangkatan mereka untuk jabatan tersebut tidak menghalangi untuk menjadi ulama.
            Hasil studi kesarjanaan Belanda pada studi Filologis menemukan apa yang disebut dengan kebudayaan asli dan otentik di Hindia Belanda. Dengan semua hal yang mereka lakukan kepada muslim Hindia, bukan tidak mungkin bahwa para sarjana Belanda cenderung meletakkan teks-teks Islam di bawah keunggulan naskah asli Jawa dikarenakan didorong sentimen anti-Islam. Maka, makin jelaslah bahwa pemerintah Belanda telah mengarahkan para penghulu dan aristokrat pribumi untuk mengikuti jalan yang telah mereka ciptakan, akibatnya penghulu semakin terlibat dalam aktivitas keagamaan dan budaya yang telah ditentukan oleh Belanda. Hal ini membawa mereka untuk makin berjarak dengan para ulama pesantren yang mengalami konsolidasi sedemikian kuat dengan budaya dan pandangan dunia mereka. Dengan semakin tampilnya ulama sebagai elit sosial membuat proyek kolonial terhadap Islam tampak tidak mencari tujuan yang diharapkan.
           
C. ANALISIS ARTIKEL
            Dalam artikel ini diceritakan bahwa upaya yang dilakukan oleh Belanda kepada para ulama Islam bukan saja dilakukan melalui perang fisik, tapi juga perang ideologi. Bab ini membahas sejarah perjuangan para ulama melawan kolonialisme. Dalam bahasan ini juga menceritakan tentang bagaimana strategi para sarjana Belanda (Snouck dan Holle) untuk mempelajari visi yang dilakukan agar masyarakat Hindia mengikuti kolonialisme dengan cara memberikan spirit liberalisme sebagai tolak ukur yang diyakini akan dapat membawa masyarakat menuju situasi dimana pribumi dan Belanda dapat hidup berdampingan.
Perlawanan yang dilakukan oleh ulama adalah karena tidak selarasnya pendidikan dan pengatahuan mereka terhadap Islam. Oleh karena itu, Neo-sufisme menjadi salah satu elemen utama dari diskursus Islam beriorientasi syariat, mendorong umat muslim untuk lebih aktif terlibat dalam persoalan sosial-politik. Semangat aktivisme ini berubah menjadi sebuah kekuatan sosial-politik yang memberi umat muslim ideologi-berbasis Islam untuk memberontak melawan kekuasaan kolonial.
            Buku ini sangat bagus untuk menjawab polemik sejarah tentang kolonial Belanda yang akhirnya membangkitkan para cendikia muslim untuk membentuk elite muslim baru. Permasalahan yang berkembang lahir sebagai jawaban agar kaum elit muslim bangkit dari ‘tidur’ karena terbawa arus kolonialisme yang dapat memecah ideologi.           
             

Reviu Buku : Peningkatan Pemerataan, Mutu dan Relevansi PendidikanTinggi melalui Peningkatan Status

A. Identitas Publikasi
1.      JUDUL BUKU          : Rekonstruksi Pendidikan Tinggi Islam : Memberi Makna
  Kelahiran UINSU
2.      PENULIS                   : Prof. Dr. Nur Fadhil Lubis, MA
3.      PENERBIT                 : Citapustaka Medan dan IAIN Press
4.      Tahun Cetak                : 2014
5.      Tebal Halaman            : 294 Halaman
6.      ISBN                           : 978-602-1317-62-4
7.      JUDUL ARTIKEL     : Peningkatan Pemerataan, Mutu dan Relevansi
                          PendidikanTinggi melalui Peningkatan Status

B. Ringkasan Isi
            Pada awal bab ini, Prof. Fadhil menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PISA dan TIMSS, pendidikan di Indonesia mengalami masa-masa suram. Adapun letak permasalahannya adalah pada ‘sistem’ yang banyak mengekang mereka dalam ketentuan legalisasi dan kebijakan birokrasi, sehingga mengakibatkan perguruan tinggi di Indonesia belum pernah masuk dalam tataran rangking universitas terbaik di kawasan Asia.
            Pendidikan tinggi di Indonesia harus diselenggarakan berdasarkan kepada (1) pencarian kebenaran ilmiah (2) demokratis dan berkeadilan (3) pengembangan budaya akademik (4) pembudayaan dan pemberdayaan sepanjang hayat (5) keteladanan, kemauan, dan pengembangan kreativitas (6) pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik (7) kebebsan memilih berdasarkan minat, bakat dan kemampuan (8) kesatuan sistemik yang terbuka dan multimakna (9) keberpihakan pada kelomok masyarakat yang kurang mampu dan (10) pemberdayaan semua komponen masyarakat.
            Adapun bentuk pendidikan tinggi dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu berdasarkan akademik, vokasi dan profesi. Untuk bentuk pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan/ pascasarjana, bentuk pendidikan vokasi adalah program diploma yang menyiapkan peserta didik untuk keterampilan tertentu dan bentuk pendidikan profesi adalah program sarjana untuk pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus
            Sedangkan tantangan dalam dunia pendidikan diantaranya adalah rendahnya APK (angka partisipasi kasar), rendahnya kualitas, termasuk relevansi pendidikan tinggi dengan dunia kerja dan adanya jurang disparitas antar berbagai kelompok masyarakat. Tantangan dari segi kualitas  yang tanpa didukung SDM yang memadai serta dana yang mumpuni juga membuat pendidikan tinggi terus mengalami kemunduran. 
            Permasalahan mengenai isi kurikulum dan proses pembelajaran yang diikuti oleh peserta didik yang ternyata masih belum relevan dengan kebutuhan yang diharapkan oleh dunia kerja.
            Adapun dalam meningkatkan status perguruan tinggi ini dinilai cukup penting karena terbukanya kesempatan untuk membina dan mengembangkan cakupan dari sisi keilmuan, teknologi dan seni.  
C. Analisis Artikel
            Dalam buku ini dapat dijelaskan berbagai sebab mundurnya perguruan tinggi di Indonesia. Permasalahan dimulai dari  kurang adanya kualitas SDM yang memadai, pendanaan yang mumpuni sampai dengan relevansi isi kurikulum dan proses pembelajaran yang telah diikuti oleh peserta didik.
Tantangan terhadap para sarjana yang memiliki kemampuan yang agar bisa diterima oleh dunia pekerjaan membuat pengelola perguruan tinggi di Indonesia harus melakukan gerakan pembaharuan dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Dalam artikel ini juga disebutkan bagaimana konsep tantangan yang dihadapi oleh dunia perguruan tinggi sebagaimana yang dikemukakan Brent D. Ruben dalam Pursuing Excellence in Higher Education: Eight Fundamental Challenges sangat membantu pemecahan permasalahan yang dapat dilakukan oleh pengelola perguruan tinggi.
 Dalam Artikel ini Prof Fadhil juga mengingatkan kita terhadap visi dan misi dalam mewujudkan perguruan tinggi yang berkualitas dan fungsional agar bisa meningkatkan pendidikan Indonesia didalam rangking universitas terbaik di Asia bahkan dunia. 

Reviu Buku : Bringing the Community Back In: A New University on Afrikological Princeples and Practices

A. Identitas Publikasi
1.      JUDUL BUKU          : Decolonising The University: The Emerging Quest For Non –
  Eurocentric Paradigms
2.      PENULIS                   : Claude Alvares dan Shad Saleem Faruqi
3.      PENERBIT                 : Universitas Sains Malaysia dan Citiziens International
4.      Tahun Cetak                : 2012
5.      Tebal Halaman            : 450 Halaman
6.      ISBN                           : 978-983-861-541-9
7.      JUDUL ARTIKEL     : Bringing the Community Back In: A New University on
                                      Afrikological Princeples and Practices, by B. Mukasa Luutu

B. Ringkasan Isi
            Pada permulaan bagian artikel ini dijelaskan bahwa universitas Afrika ditantang untuk mengembalikan Afrika dari kehancuran dikarenakan multi-dimensi krisis yang tidak dibangun dengan etos dari independensi melainkan dimodelkan untuk meniru Eropa dan modernisasi Barat. Hubert Vilakazi berpendapat bahwa pola pikir kolonial yang berorientasi telah menghasilkan situasi yang aneh dimana pengetahuan tentang prinsip dan pola tetap dari peradaban Afrika. Hubert mengamati bahwa para intelektualnya ‘lari’ dari peranan mereka yang mengakibatkan marginalisasi dan penghancuran sistem pengetahuan, budaya dan institusi. Hal ini mengisyaratkan bahwa Afrika perlu melakukan pendekatan dekolonisasi dalam menemukan cara baru untuk generasi-generasi dalam mencari pengetahuan dan membentuk dekolonisasi perguruan tinggi yang berperan kepada masyarakat Afrika.
Fakta menyebutkan bahwa universitas di Afrika mengalami kekurangan untuk mentransformasi terhadap pasokan sumber daya. Salah satu tantangan di universitas Afrika adalah MPAU yang berada di Uganda yang mengalami bahawa sebagian lulusannya tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk secara efektif untuk mengubah pengetahuan yang mereka dapatkan di universitas menjadi bahan barang dan jasa yang dapat membantu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka. Oleh karena itu, dewan nasional Uganda (UNCST) menganggap bahwasanya kelemahan Uganda adalah pada budaya penelitian dan kurang mengimplementasikan inovasi teknologi. Hal ini dibuktikan dengan sangat rendahnya tingkat dari hasil publikasi penelitian yang diakui pada jurnal international.
            Inti prinsip MPAI-MPAU didirikan adalah dengan mengikuti prinsip yang di ambil dari pengalaman sejarah dan warisan Afrika, dimana telah dicapai melalui interaksi sejarahnya:
1.      Prinsip MA’AT tentang keseimbangan dan keadilan yang terikat
2.      Prinsip retorasi dan harmoni dalam masyarakat
3.      Prinsip bahwa komunitas adalah dinamis
4.      Prinsip kedaulatan, demokrasi dan partisipasi penuh
5.      Prinsip kemandirian dan saling ketergantungan
6.      Prinsip timbal balik dan solidaritas
7.      Prinsip kejujuran dan kejujuran
8.      Prinsip transparansi dan akutanbilitas budaya

Adapun tujuan dari MPAU, diantaranya adalah :
1.      Melakukan penelitian di area pengetahuan Afrika dan kebijaksanaan serta profil pendidikan yang masuk pada agenda penelitian global
2.      Melakukan penelitian yang bisa mengembalikan dan dokumen pendidikan perempuan Afrika dari persfektif afrikological
3.      Mendorong dan memfasilitasi penggunaan dan pengembangan terminologis dari bahasa Afrika sebagai media instruksi dan wacana intelektual di semua tingkat
4.      Mengidentifikasi dan memperkuat situs komunitas dari pengetahuan sebagai salah satu pilar dari universitas
5.      Merekrut peneliti untuk melakukan penelitian pada basis baru epistemologis di situs komunitas dari pendidikan dan menghubungkan mereka dengan institusi pendidikan lainnya sehingga mereka menemukan penelitian yang bisa meninjau dan pengakuan terbuka
6.      Meng-link-kan beberapa aktivitas penelitian pada perkembangan staff universitas dan program latihan
7.      Memastikan bahwa penelitian dibagi dari masyarakat dari mana pengetahuan itu berasal termasuk mendokumentasikan ke dalam bahasa mereka masing-masing.
8.      Memanfaatkan hasil penelitian untuk mengembangkan kurikulum dan menciptakan epistemologi pada pengetahuan dan kebijaksanaan
9.      Mendokumentasikan semua materi baik di situs komunitas maupun di institut, sehingga perpustakaan dibangun yang bisa digunakan baik untuk tingkat masyarakat dan di institut
10.  Mengembangkan, berkerjasama dengan lembaga lain, Teknologi komputer yang menghubungkan masyarakat pedesaan ke perguruan tinggi, sekolah menengah, sekolah dasar, rumah sakit, pusat kesehatan.
Hanya kapasitas manusia untuk menciptakan makna dan pengetahuan baru melalui bahasa mereka. Oleh karena itu, sistem pengetahuan di seluruh dunia bersifat permanen karena mereka menciptakan dan membuktikan sendiri.
Sedangkan prinsip Ma'at adalah prinsip primordial yang mengatur semua nilai. Prinsip ini mengekspresikan alam semesta sebagai tatanan kosmik dan sebagai bagian dari kebenaran dan keadilan yang melindungi negara dari kekacauan, kelaparan, dan dari kesengsaraan. Ma'at mensyaratkan bahwa manusia yang hidup dalam masyarakat harus sesuai dengan keadilan dan kebenaran, maka Ma'at adalah kebajikan tertinggi yang memandu semua aktivitas manusia. Ma'at adalah prinsip keterkaitan melalui keadilan dan merupakan prinsip restoratif yang bertujuan pada kebutuhan keseimbangan antara alam dan masyarakat dan antara individu dalam masyarakat itu.
Peran dari pengetahuan adalah ketika dapat diterapkan pada perguruan tinggi dalam  masyarakat,  pelacakan dari Afrikology memungkinkan kita untuk menyambung kembali  ke  asal bagaimana realitas yang dikandung dan bagaimana ia telah  terus  dibuat  sampai  sekarang melalui manusia agen dan language
Dalam Afrikology, setiap  manusia  memiliki hak untuk berbicara dan untuk orang lain untuk mendengarkan dan ini adalah  kondisi spiritual. Adapun tugas Afrikology  sebagai epistemologi adalah untuk memulihkan pendekatan kuno ke pengetahuan generasi luar yang ada dan link  ke sumber-sumber  asli pada Afrika kuno.
Jika kita membuat  kemajuan dalam memajukan beasiswa dalam kondisi decolonising universitas dan pengetahuan. Ulama Afrika harus bersama-sama dengan masyarakat menciptakan baru dunia dengan  mampu mengenali dunia kosmologis yang ada.
C. Analisis Artikel
Dalam chapter ini, dapat dijelaskan kenapa Afrika mengalami kemunduran, bukan hanya dari sisi pendidikan akan tetapi juga pada masyarakatnya. Permasalahannya terletak pada ulama ataupun intelektual yang menghindar diri dari permasalahan yang terjadi di Afrika.
Upaya awal yang dilakukan univeristas untuk meningkatkannya adalah partisipasi dan proaktif yang menghubungkan antara universitas dan masyarakat sehingga keduanya bisa mengatasi masalah yang terjadi di Afrika. Oleh karena itu, cara pertama yang dilakukan adalah dengan membangun budaya dan spritual yang menyoroti mengenai kehidupan spritual Afrika.         Carruthers mengatakan bahwa kita harus menciptakan pondasi rohani karena selama kita menyembah ideologies asing dan utopia yang menyebabkan kita keterasingan dari  dunia Afrika.
Keterpurukan yang terjadi di Afrika dapat menjadi pelajaran kepada negara Indonesia, khususnya para intelektual, bahwa kita harus menguatkan kemampuan potensi kita bukan saja terhadap pengetahuan akan tetapi pada pondasi keimanan atau spiritual kita. Pendidikan yang tepat guna dengan kebutuhan di Indonesia juga menjadi tolak ukur keberhasilan ekonomi bangsa. Kekuatan bangsa adalah terletak kalangan inteligensia dan masyarakat yang bergabung dalam menuntaskan permasalahan yang terjadi di negara.  

Reviu Buku : Financial Management and Control in Higher Education

Identitas Buku

Buku yang berjudul tentang Financial Management and Control in  Higher Education (Manajemen Keuangan dan Pengendalian di Pendidikan Tinggi) dikarang oleh Malcolm Prowle dan Eric Morgan pertama kali diterbitkan pada tahun 2005 oleh penerbit RoutledgeFalmer di New York, Amerika. Secara garis besar, buku ini banyak membahas tentang masalah keuangan pada perguruan tinggi, seperti tentang isu-isu dalam keuangan dan manajemen keuangan serta panduan praktis terhadap keuangan di perguruan tinggi.
Buku yang berjumlah 286 halaman ini membagi kepada sub bab judul  yang membahas tentang Pembiayaan pada sektor Perguruan Tinggi, mengalokasikan sumber daya, perencanaan strategis bisnis, sistem anggaran dan manajemen anggaran, sistem biaya dan biaya, penetapan harga, kontrol terhadap keuangan dan audit, akutansi keuangan dan akuntabilitas, organisasi dan staff fungsi keuangan, meningkatkan kinerja, dan trend masa depan pada sektor pendidikan tinggi : implikasi keuangan.


Ringkasan Pembiayaan dan Sistem Pembiayaan

Dalam pembahasan bab 6, buku ini membahas tentang perilaku biaya dan perbedaan antara biaya-biaya yang ditetapkan serta variabel-variabelnya. Tentang kasus kesimbangan pembiayaan di sebagian besar Perguruan Tinggi, setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah. Komponen kunci dari kontrol anggaran adalah ketersediaan informasi biaya aktual untuk dibandingkan dengan biaya yang dianggarkan.
Dengan menganalisis aktivitas, maka akan menghasilkan informasi rutin mengenai keseluruhan biaya yang terjadi dan pendapatan yang diterima. Namun, informasi yang tersedia seringkali tidak cukup untuk memungkinkan analisis terhadap kinerja keuangan dari berbagai kegiatan, misalnya penelitian, pengajaran dan konsultasi. Hal ini sangat penting jika sekolah mengalami defisit keuangan secara keseluruhan dan sekolah ingin mengetahui penyebab utama dari defisit tersebut.
Pada prinsip-prinsip penetapan biaya perlu mempertimbangkan masalah penetapan biaya, diantaranya adalah: (1) produk dan biaya periode, (2) biaya langsung dan tidak langsung, (3) biaya tetap dan variabel, (4) biaya total dan marjinal.
Di dalam penyesuaian biaya, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa organisasi membuat ketentuan keuangan untuk mempertahankan kemampuan operasionalnya, mampu mengganti aset saat habis dan mampu memperoleh aset baru serta tambahan untuk memenuhi kebutuhan bisnis di masa depan.
Dengan demikian, untuk mengatasi masalah-masalah yang akan dihasilkan dari fluktuasi dalam tingkat pendapatan bahwa kebanyakan Perguruan Tinggi mencoba untuk mengubah struktur biaya keseluruhan mereka, sebagai contoh beberapa Perguruan Tinggi sebagian besar staf akademik akan dibayar per-jam daripada membayar gaji tahunan.
Beberapa kemungkinan pada hal ini adalah peningkatan penggunaan layanan kontrak daripada staf di rumah dan peningkatan berbagai kontrak karyawan jangka pendek. Namun, kemungkinan perubahan pada undang-undang ketenagakerjaan di masa depan dapat menempatkan batas pada apa yang dapat dicapai di bidang ini.
Kasus yang terjadi pada HEI (institusi pendidikan tinggi) adalah dalam penghematan biaya. Penghematan hanya dapat dicapai oleh tindakan yang lebih radikal, seperti:
1.      Rasionalisasi situs; ini akan membutuhkan investasi modal yang besar tetapi harus mewujudkan penghematan biaya yang besar;
2.      Investasi dalam sistem administrasi yang efisien dan didorong oleh teknologi yang dirancang untuk mengurangi biaya administrasi berjalan;
3.      penyederhanaan organisasi yang akan melibatkan pengurangan jumlah tingkatan di HEI itu sendiri dan di masing-masing departemen;
4.      Layanan outsourcing di mana ini dapat mencapai basis biaya yang lebih rendah daripada layanan servis in-house.
Di dalam rencana pengembangan sistem biaya harus menghasilkan hal-hal berikut:
1.      identifikasi kebutuhan informasi terperinci;
2.      pengembangan pendekatan dan metode biaya rinci;
3.      peningkatan sistem yang ada;
4.      pemilihan sistem baru;
5.      pengembangan rencana implementasi.

Kekhashan dan Kemuktahiran Buku

Dengan menggunakan tata bahasa yang menarik, buku ini lebih mudah dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang di bidang keuangan. Buku ini juga memberikan beberapa contoh kasus, sehingga bisa menjadi pertimbangan untuk perkembangan baru yang mencakup semua aspek manajemen keuangan dari alokasi makro pendanaan sampai kepada manajemen anggaran individu. Dengan demikian, buku ini merupakan panduan bagi penyelenggara pendidikan tinggi agar bisa mengembangkan manajerial dan pengendalian keuangan.
Pada bagian bab 6 ini, ada diskusi tentang pengembangan sistem biaya pendidikan tinggi dibawah TRAC (pendekatan transparan untuk pembiayaan) yang mengatakan bahwa produksi informasi keuangan di bawah TRAC dilihat sebagai aspek pelaporan pusat informasi keuangan. Walaupun tingkat pendanaan penelitian diketahui, lembaga pendidikan tinggi tidak dapat menunjukkan berapa proporsi pengeluaran total mereka pada penelitian?, bagaimana pengeluaran ini terkait dengan total pendanaan penelitian untuk sektor pendidikan tinggi?, dan apakah subsidi silang terjadi antara mengajar dan penelitian?. Ini karena pada institusi pendidikan tinggi tidak memiliki sistem biaya yang dibutuhkan untuk memisahkan pengeluaran mereka antara pengajaran, penelitian dan kegiatan lainnya, sehingga biaya dapat dibebankan pada tawaran pendanaan di dewan penelitian dan badan publik lainnya seperti Pemerintah atau swasta.


Kelebihan dan Kelemahan Buku

a.       Kelebihan
Buku ini memiliki keistimewaan dalam pembahasan tentang pembiayaan, diantaranya adalah pemberian contoh kasus yang terjadi pada sebagaian pendidikan tinggi. Penjelasan dalam bentuk tabel membuat pembaca mudah didalam memahami makna yang terkandung serta dijelaskan secara rinci mengenai bagaimana mengefesiensikan pembiayaan pada institusi pendidikan tinggi.
b.      Kelemahan
Buku ini memiliki beberapa kekurangan, diantaranya adalah :
1.      Pembaca harus memahami singkatan kata yang termaktub didalam buku, seperti HEI, FEC, dan lain-lain
2.      Di dalam contoh kasus dan contoh-contoh, penulis tidak melengkapi data-data, sehingga pembaca buku ini kurang bisa memahami kendala dan permasalahan yang terjadi pada sebuah institusi
3.      Di dalam teori dan strategis, penulis hanya mencantumkan pendapatnya saja tanpa mengutip dari pendapat teori lain, sehingga tidak adanya perbandingan.
4.      Sistem pembiayaan ini tidak sesuai model pembiyaan dan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Rekomendasi
Buku ini dapat direkomendasikan dan layak untuk dikaji lebih lanjut untuk dapat dikembangkan pada proses dan prosedur serta tahapan didalam mengelola di sekolah maupun di Institusi Perguruan Tinggi, sehingga pengetahuan ilmu manajemen pendidikan bisa terus berkembang terlebih khusus tentang bagaimana pengelolaan biaya. 


Simpulan

            Dalam buku ini pembahasan secara rinci mengenai manajemen keuangan dan kontrol pada institusi pendidikan tinggi. Didalam salah satu pembahasan mengenai pembiayaan disebutkan bahwa dengan penghematan dan kontrol yang baik, maka biaya akan lebih efektif dan efesien didalam peningkatan kinerja.
            Buku ini memuat beberapa contoh kasus yang bisa menjadi pelajaran terpenting didalam pengelolaan sebuah institusi. Komponen kunci dari kontrol anggaran adalah ketersediaan informasi biaya aktual untuk dibandingkan dengan biaya yang dianggarkan.
            Untuk mengembangkan tahapan, proses dan strategi di dalam buku ini, hendaknya pembaca lebih mempelajari dan mengkaji lebih lanjut agar bisa diimplementasikan pada perguruan tinggi.

Rabu, 10 April 2019

Review Buku Panduan Kuliah

A. IDENTITAS BUKU       
Judul Buku : Panduan Kuliah Filsafat Ilmu 
Penulis        : Drs. Al Rasyidin dan Drs. Mardianto
Penerbit      : FT. IAIN Sumatera Utara

Buku panduan setebal 95 halaman ini menjelaskan tentang beberapa hal yang menyajikan secara sistematis materi dari kurikulum pada mata kuliah filsafat ilmu, menampilkan satu tatanan penjabaran materi secara berurutan dan upaya bagi dosen maupun proses pendidikan di fakultas untuk pengembangan mata kuliah filsafat.
            Modul ini menitikberatkan pada upaya sistematis persoalan dan problematika filsafat serta memudahkan dosen dalam menyampaikan pokok bahasan yang akan diajarkan, sehingga dosen dan mahasiswa termotivasi untuk mengembangkan literatur bacaan dan khazanah keilmuan, terutama mata kuliah filsafat di fakultas Tarbiyyah IAIN Sumatera Utara.
            Adapun buku ini berisikan tentang ilmu yang dimulai dari pengertian, struktur, pengetahuan serta kaitannya dengan fakta, kepercayaan, kebenaran, klasifikasi, logika, estetika, etika/agama, humaniora dan Islam.


B. REVIU BUKU    

Uraian pada pembahasan materi ini adalah pokok bahasan dari seluruh materi pada mata kuliah filsafat ilmu. Penjabaran pada materi ini disusun sesuai dengan obyek bahasan yang dijelaskan pada setiap rangkaian materi pokok filsafat ilmu. Adapun sistematikanya meliputi topik dan uraian pokok bahasan.
            Bahasan dalam pendahuluan buku panduan ini dijelaskan mengapa manusia harus belajar filsafat, kemudian dijelaskan secara terstruktur pengertian dasar tentang filsafat dan ilmu sebagai bahan dasar untuk persamaan ide dan arah tujuan dari pembelajaran.
            Dalam bahasan berikutnya, buku ini menjelaskan 13 topik bahasan yang terangkum dalam uraian pokok bahasan yang terbagi secara sistematis dalam subtopik pada bahasan Utama, Pengertian, Uraian, Catatan dan Gambar yang seluruh pointers-nya tersebut menjelaskan pemahaman tentang konsep pembelajaran pada mata kuliah filsafat ilmu.   
            Kelemahan pada buku ini adalah pada setiap bagian pembahasan tidak disertai dengan daftar bacaan dan contoh, sehingga fokus terhadap topik bahasan dapat membuat jauh dari tujuan yang akan dicapai. Namun demikian, tentunya buku ini memberikan kotribusi ilmu pengetahuan yang cukup memadai terkait dengan filsafat ilmu.



C. STUDI KELAYAKAN  

Ketika membaca seluruh bahasan yang terdapat buku panduan ini, menurut saya buku ini sangat relevan dan layak untuk digunakan untuk di kalangan mahasiswa atau yang akan mengajarkan filsafat ilmu. Buku ini memberikan urutan dan penjabaran pada setiap materinya. Uraian pada pokok bahasan mempermudah dosen untuk bagaimana menjabarkan topik yang akan diajarkan dan mahasiswa dapat dengan mudah memahami tujuan dari belajar filsafat.
            Sistematika dalam buku ini sangat rinci karena disertai bagaimana arah dari proses berpikir dalam setiap pokok bahasan. Sedangkan pada pola/ gambar dari uraian topik yang dijabarkan sangat mendukung mempertajam setiap pembahasan, sehingga tujuan belajar pada matakuliah ini dapat dipahami dengan sangat mudah. Jika setiap mata kuliah diberikan konsep pemetaan secara terstruktur seperti ini, maka seluruh pembelajaran akan sangat mudah dipelajari, baik untuk dosen yang mengajar maupun mahasiswa yang belajar memahami khazanah keilmuan.