Maknai Hidup

Hidup ini selalu berwarna, kita tidak bisa menentukan warna hidup kita, tapi kita mewarnai hidup kita, SELAMAT MEWARNAI

Belajar dan Belajarlah

Orang yang hidup itu selalu belajar, kalau tidak mau lagi belajar, maka bersiaplah untuk mati

Tidak ada yang tidak mungkin selama engkau punya Allah

Ketika engkau bertekad menjadi orang yang lebih baik lagi maka Allah akan mendatagkan orang – orang baik di dalam hidupmu untuk menemani langkahmu, Maka Berdolah di dalam setiap Langkahmu

Sukses adalah sebuah kegagalan yang berakhir indah

Wujudkan impianmu jangan takut gagal, karena jika gagal itu artinya lebih baik kamu telah berusaha mengusahakannya daripada tidak sama sekali. Selamat Mencoba

Bersahabatlah dengan Tulus

Sahabat yang baik, akan menegur ketika kita berbuat kesalahan meskipun harus melalui pertengkaran dan perselisihan karena rasa kasih sayangnya

KPI Korwil Sumut

Komunitas Parkit Indonesia Wilayah Sumatera Utara

Selasa, 09 April 2019

HUBUNGAN ANTARA AKAL, PENGINDERAAN, INTUISI DAN WAHYU DALAM BANGUNAN KEILMUAN ISLAM

A. Pengertian Kata Epistemologi
            Dalam bahasa Yunani, kata epistemologi terdiri dari dua kata, yaitu episteme dan logos. Kata episteme ini diartikan sebagai pengetahuan dan logos bermakna ilmu atau eksplanasi.[1] Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang apa pengetahuan dan bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan. Sehingga, kata epistemologi dapat diartikan sebagai teori pengetahuan dimana dalam bahasa Arab disebut Nazhriyah al-Ma’rifah.[2]Penggunaan istilah kata ini diperkenalkan oleh J. F. Ferrier dalam “institute of metaphysics”.[3]
            Mengenai makna kata dari epistemologi, para ahli berpendapat bahwa epistemologi dapat dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran. Kajiannya membahas tentang makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal-hal yang dapat diketahui.[4]Menurut Runes, epistemologi adalah cabang filsafat yang menelusuri asal (sumber), struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan.[5] Sedangkan, menurut Harun Nasution, epistemologi ialah ilmu yang membahas tentang apa itu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.[6]Dari pendapat beberapa ahli mengenai epistemologi, penulis mengambil sebuah kesimpulan yang dikutip dari pendapat Suriasumantri, epistemologi merupakan bagian kajian dari filsafat ilmu yang membahas tentang proses dan prosedur menggali ilmu, metode untuk meraih ilmu yang benar, makna dan kriteria kebenaran, serta sarana yang digunakan untuk mendapatkan ilmu.[7]



B. Sarana Meraih Ilmu dan Sumber Ilmu
Kata ilmu secara bahasa berasal dari perkataan ‘allamah asal kata bahasa Arab ‘ain-lam-mim, yang berarti tanda atau penunjuk. Kata ‘ilm juga bentuk definitif dari kata ‘alima, ya’lamu, ‘ilman yang berarti pengetahuan.
Ada pemahaman yang sama antara science dalam epistemologi barat dengan ilmu dalam epistemologi Islam. Secara bahasa kata science diambil dari bahasa latin, yaitu mengetahui. Sainsdapat diterjemahkan sebagai sebuah pengetahuan yang sitematis, berawal dari hasil observasi,berbagai macam percobaan yang dilakukan untuk mengkaji prinsip dari apa yang dikaji. Oleh karena itu, makna sains telah terjadi peralihan pengertian, yaitu dari sebatas pengetahuan, menjadi pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi inderawi.[8]Namun, sains hanya terbatas pada lingkup sains pada dunia fisik saja, sedangkan ilmu tidak hanya terbatas pada bidang fisik, tetapi kepada metafisika (ma’rifah),karena keduanya bukanlah jenis ilmu yang sama. Adapun yang dimaksud ma’rifah adalah jenis ilmu yang dicapai melalui pengalaman hati yang dibimbing oleh wahyu dalam mencapai kepuasan (al-nafs al-mutma’inah).[9]
Islam mengajarkan bahwa semua sumber segala sesuatu berasal dari Allah swt., yang meliputi bumi dan langit, hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surah Thaahaa (20) ayat 98.

Refleksi dalam alquran surah al-Baqarah (2) ayat 30 dan 31 menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai khalifahdi bumi ini mempunyai berbagai potensi yang membuatnya dapat memperoleh ilmu. Adapun potensi tersebut adalah jiwa, pendengaran, penglihatan, akal dan hati, sebagaimana tertuang dalam firman Allah surah an-Nahl (18) ayat 78 dan dalam surah al-Mulk (67) ayat 23.

            Pada kandungan kedua ayat ini, dengan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi, manusia dapat merealisasikan keseluruhan potensi yang diberikan agar menjadikan manusia lebih bersyukur kepada Allah swt. dengan pemberian anugerah ini, maka tauhid merupakan prinsip dasar ilmu pengetahuan, yaitu prinsip yang menggariskan kebenaran yang datangnya dari Allah swt.[10]

1.      Alquran sebagai sumber ilmu pertama
Sebagai sumber ilmu yang diberikan kepada nabi Muhammad saw.,alquran merupakan petunjuk bagi manusia dan alam semesta, sebagaimana dalam surah at-Takwir (81) ayat 27 dan surah al Baqarah (2) ayat 185:


Sebagai petunjuk dari Allah swt. tentu tidak ada penyimpangan yang terdapat didalamnya. Isi kandungannya meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan di dunia dan di akhirat, adanya perintah dan larangan, sejarah umat terdahulu, berita baik dan burukserta berbagai disiplin ilmu yang lainnya. Sebagai sumber ilmu yang terdapat dalam alquran, para ulama (penemu) secara continue menganlisis kandungan yang terdapat didalamnya, sehingga khazanah keilmuan terus berkembang sampai sekarang, seperti perkembangan pengetahuan tentang kedokteran, tehnologi dan lain sebagainya sebagai bentuk dari usaha manusia memikirkan dalam mencari ilmu pengetahuan.Dengan demikian, alquran menempati sumber utama untuk mengambil sikap kehidupan.

2.      Pengetahuan yang bersumber dari Al-Hadis/ Al-Sunnah
Secara garis besar al-sunnah dapat diartikan sebagai keteladanan Muhammad saw. sebagai seorang utusan yang didalamnya terdapat perbuatan dan perkataan  dalam menjalankan ajaran Islam yang harus diikuti oleh setiap muslim. Al-hadis dapat dipahami sebagai al-bayan yang fungsinya sebagai penjelasan terhadap ayat-ayat yang belum diketahui oleh manusia, sebagaimana tertuang dalam alquran surah al-Baqarah (2) ayat 151

                Al-hadis juga mempunyai peranan yang sangat penting didalam memahami syariat Islam serta berfungsi merinci petunjuk dan isyarat alquran yang bersifat global, sebagai pengecualian terhadap isyarat alquran yang bersifat umum, sebagai pembatas terhadap ayat alquran yang bersifat mutlak dan sebagai pemberi informasi terhadap sesuatu yang tidak ada di dalam alquran, maka pemahaman alquran dan juga pemahaman ajaran islam yang seutuhnya tidak dapat dilakukan tanpa mengikut sertakan Nabi Muhammad saw.[11]

3.      Hubungan antara Wahyu dan Akal
Di dalam perjalanan manusia, Allah swt. memberikan kepada wahyu kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman agar manusia tetap pada jalan yang diridhai-Nya dan kebenarannya tidak diragukan, sebagaimana firman Allah swt. dalam surah al-Maidah(5) ayat 44, Al-Maidah (5) ayat 48, dan surah al-Israa (17) ayat 105.

Wahyu merupakan sumber ilmu yang primer berasal dari Allah swt. yang diterima para nabi. Ada dua pengertian dasar mengenai wahyu, yaitu tersembunyi dan cepat. Secara etimologi wahyu meliputi: (1) ilham sebagai bawaan dasar manusia, (2) ilham berupa naluri pada binatang, (3) isyarat yang cepat, (4) bisikan, (5) apa yang disampaikan Allah kepada malaikatnya berupa perintah untuk dikerjakan.[12] Sedangkan wahyu dalam pengertian istilah adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada nabi. Oleh karena itu, sumber ilmu dalam epistemologi islam ditekankan kepada Kalam Allah, berupa alquran dan kepada nabi sebagai penerima wahyu, dalam hal ini merujuk kepada hadis yang bersumber dari perkataan, perbuatan dan ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan Allah swt. yang disyariatkan kepada manusia.[13] Namun demikian, selain alquran dan hadis sebagai sumber ilmu, ada juga akal, hati serta indera yang terdapat dalam diri manusia.[14]
            Akal yang diberikan kepada manusia mendapatkan kedudukan tinggi dibandingkan otak binatang, karena akal dalam pandangan islam mempunyai pengertian daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia.[15]
            Akal pada Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung banyak arti, diantaranya (1) daya pikir, (2) daya upaya, (3) tipu daya dan (4) kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungan.[16] Ada beberapa pemaknaan yang sama mengenai makna kata akal dalam alquran, yaitu nazhara (melihat secara abstrak), tadabbara (merenung), tafakkara (berpikir), tazakkara (mengingat, memeroleh pengertian, mendapatkan pelajaran, memerhatikan dan mempelajari) dan fahima (memahami). [17]
            Dari segi persfektif Islam, alquran menjelaskan dalam surah an-Nahl (16) ayat 78 tentang Ilmu yang diraih oleh manusia melalui akal agar manusia lebih bersyukur. Pada ayat yang lain, bahwa manusia diminta pertanggungjawaban ketika tidak menggunakan akalnya, surah al-Israa (17) ayat 36.

            Di dalam Alquran, Allah swt. memberikan apresiasi bagi umat yang berakal, diantaranya adalah ‘ulu al-‘ilm yang terdapat dalam surah Ali Imran (3) ayat 18, ‘ulul Albab (Q.S al-Baqarah (2) ayat 265), ‘ulul Abshar(Q.S. Ali Imran (3) ayat 13) dan lain-lain.[18]
Dengan demikian, akal juga dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan. Oleh karena itu, akal mendapatkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan yang berasal dari diri manusia, sebagaimana alquran menjelaskan dalam surah an-Nahl (16) ayat 44 tentang pentingnya akal dalam kehidupan manusia. Para filosof Islam, imam al-Ghazali memberikan pandangan, bahwa ada empat pengertian tentang akal:
  1. Sebutan yang memisahkan antara manusia dan hewan
  2. Ilmu yang lahir pada saat anak-anak mencapai akil baligh, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
  3. Ilmu yang didapat melalui pengalaman
  4. Kekuatan menghentikan dorongan naluriah untuk menerawang jauh ke angksa, mengekang dan menundukan syahwat yang selalu mengelu-elukan kenikmatan sementara. [19]

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penyimpangan akal, diantaranya adalah: (1) hawa nafsu dan beragam keinginan, (2) terlalu cinta dan benci terhadap sesuatu serta mempunyai prasangka yang berlebihan, (3) sifat sombong, (4) mengikuti tanpa mengetahui alasan/ dalilnya, dan (5) terburu-buru dalam memutuskan.[20]
Adapun yang menjadikan perbedannya adalah rasul memperoleh pengetahuan melalui wahyu, sedangkan filosof menggunakan daya fikir. Akal mempunyai fungsi memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan indera manusia didalam proses pencarian ilmu. Dalam perkembangannya, akal juga mempunyai kemampuan untuk berpikir secara kritis serta kemampuan untuk menggali esensi yang dipahaminya.
Dari keselurahan penjelasan di atas, bahwa akal mempunyai jangkauan yang terbatas dari hasil pemikiran yang kebenarannya hanya bersifat sementara, sedangkan wahyu merupakan kebenaran yang berasal dari Allah yang jangkauannya tidak terbatas.

4.      Pengetahuan melalui Panca Indera
            Salah potensi yang dimiliki manusia adalah panca indera, karena ketika manusia dilahirkan, potensi tersebut diharapkan bisa menjadikan hamba yang bersyukur karena meraih banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki. Di dalam Alquran kalimat pendengaran disebutkan sebanyak 12 kali dan pengelihatan disebutkan sebanyak 18 kali, hal inilah yang menjadikan manusia belajar mengenal alam material. [21]
            Di dalam alquran, manusia diserukan untuk menggunakan indera dan akal sekaligus dalam pengamalan manusia, baik yang bersifat fisik maupun metafisik, karena indera dan akal saling menyempurnakan, walaupun masih ada yang mengabaikannya. Orang yang mengabaikan ini digolongkan kepada kesesatan dan jauh dari kebenaran. Sebagaimana dalam disebutkan dalam surah al-‘Araaf (7) ayat 179 dan  dalam surah al-Baqarah (2) ayat 7.

            Indera mempunyai peranan yang sangat penting, sehingga aliran empiris berpendapat bahwa indera sebagai sumber awal untuk mengetahui alam sekitar. Sedangkan menurut aliran rasionalis, bahwa indera merupakan sumber berpikir dan sumber gambaran sederhana yang terdapat fitrah dalam mental yang membangkitkan tingkat gambaran.[22]
            Adapun beberapa pendapat mengenai fungsi peranan indera sebagai sumber pengetahuan, yaitu:
a.       Indera bersama, indera ini mempunyai kemampuandalam menerima semua informasi dari panca indera luar, lalu meneruskan kepadaindera batin
b.      Indera penggambar, mempunyai fungsi menyimpan informasi yang diterima oleh indera bersama dari hasil cerapan panca indera
c.       Indera pereka, indera ini berada dibagian tengah otak dan memiliki kemampuan untuk mengatur gambar yang telah dilepaskan dari materi oleh indera dengan cara membagi susunannya (klasifikasi) dan menghubungkan satu dengan yang lainnya.
d.      Indera penganggap, memiliki kemapuan untuk menangkap makna yang abstrak dan apa yang dimaksud dalam gambaran-gambaran.
e.       Indera pengingat, indera ini berada dibagian belakang otak dan memiliki kemampuan untuk mengingat segala yang sudah tersimpan dan diketahui oleh indera penganggap.[23]

5.      Hati (kalbu) sebagai sarana meraih ilmu
Penggunaan kata qalb atau af’idah sering kali disebut dalam alquran. Makna lain dari kata hati yang terdapat didalam alquran adalah kata bashirah (nurani)diartikan sebagai hati yang selalu merujuk kepada sesuatu yang berkaitan dengan emosi (perasaan) manusia dan memiliki makna khusus dari nafs sebagai penggerak naluri atau biologis yaitu hanya terbatas pada bagian yang disadari.[24] Hal ini Allah swt. menerangkan dalam surah al-Hajj (22) ayat 46.

            Hati berfungsi sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai serta memutuskan suatu tindakan, sehinggal qalb menjadi identik dengan akal. Dalam hal ini disebutkan beberapa potensi manusia tentang hati, yaitu merasa kecewa, sengaja memutuskan sesuatu, berprasangka, menolak sesuatu, mengingkari, dapat diuji, dapat ditundukkan, dapat diperluas dan dipersempit bahkan bisa ditutup dengan rapat.[25]
            Imam al-Ghazali berpendapat bahwa hati mempunyai dua makna, yaitu daging yang berada didalam dada sebelah kiri dan sesuatu yang halus dan bersifat ketuhanan serta memiliki kaitan dengan ruh. Dengan demikian, akal dan hati memiliki kaitan yang saling berhubungan, jika akal adalah sifat ilmu dan terletak dalam hati sedangkan hati berkaitan dengan ruh tempat dari mana manusia dapat mengerti dan mengetahui.[26]
Al-Ghazali juga berpendapat bahwa yang menyebabkan hati tidak dapat meraih ilmu, yaitu kekurangan hati (yakni nurani), hawa nafsu yang selalu berbuat maksiat, berpaling dari kebenaran, taklid kepada prasangka, tidak mengetahui arah kebenaran.[27]
Secara umum, Ibnu Sina mengatakan ketika akal hanya kepada tataran kesadaran, sedangkan hati mampu menembus kepada alam ghaib, sehingga mampu mengerti tentang pengalaman non inderawi yang termasuk didalamnya dunia mistik atau relegius.[28]
Dengan demikian, bahwa jika ingin mendapatkan ilmu pengetahuan hati kita harus senatiasa bersih dan selalu beribadah serta memohon lindungan Allah dari hawa nafsu yang membuat manusia terjerumus kepada kesesatan. Oleh karena itu, dengan memperbanyak ibadah kepada Allah membuat hati kita menjadi suci, sehingga Allah swt. memberikan kepada manusia berbagai nikmat ilmu pengetahuan.

C. Hubungan antara Akal, Indera, Intuisi dan Wahyu
Setelah penjelasan dari ayat-ayat dan keterangan mengenai akal, indera, wahyu dan hati, maka hal ini dapat dijadikan sebagai rujukan dan landasan serta bentuk eksistensi dalam epistemologi Islam. Hal ini dapat terncantum dalam sumber-sumber yang relevan.
Ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan cara-cara menggunakan rasio dan yang berdasarkan kepada pengalaman, sehingga menjadi pengetahuan yang dapat terus dikembangakan sesuai dengan masalah-masalah yang berkembang pada saat ini 
Menurut paham positivisme menyakini bahwa kebenaran sebuah ilmu itu dapat diukur dan dapat diuji kebenarannya. Sedangkan masih terdapat langkah lain dalam mendapatkan ilmu, yaitu dengan wahyu dan intuisi. Intuisi adalah pengetahuan yang didapatkan tanpa proses penalaran, sedangkan wahyu adalah pengetahuan yang diberikan Allah kepada manusia utusan-Nya.[29]
Pengetahuan didalam agama bukan saja mengenai‘cerita lama’ yang tertulis tentang sejarah kehidupan manusia, tetapi juga mengandung masalah-masalah yang sampai sekarang belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Pengetahuan ini masih terus dikaji sehingga ilmu yang didapatkan menjadi berkembang dan senantiasa menjadikan jawaban-jawaban pertanyaan manusia agar selalu percaya kebenaran Allah swt. yang membuat manusia selalu tunduk dan beribadah kepada-Nya.
Jika diambil sebuah kejelasan dalam tradisi islam ada empat pendekatan, yaitu bayani, tajribi, burhani dan irfani. Metode ini semuanya menguhubungkan dari teks, sumber dan karakteristiknya dalam membangun keilmuan yang islami.
1. Metode Bayani
            Metode ini sering diterapkan para ahli tafsir (mufassir) dalam menelaah ini pengetahuan dari alquran dan hadis. Dalam metode ini, ulama tafsir menjelaskan bagaimana proses dan prosedur ilmiah dalam mengkaji alquran dimulai dari syarat mufassir, jenis tafsir sampai dengan metode tafsir.
            Oleh karena itu, pandangan para ulama terhadap wahyu memunculkan berbagai macam pengetahuan dalam sepanjang sejarah Islam, walaupun banyak metode yang terkuak dalam metode ini, tetapi alquran tidak akan pernah habis untuk terus dibahas dalam pengetahuan Islam.
Dengan berbagai macam pencarian ilmu melalui tafsir, metode ini dapat mengungkap maksud yang terkandung didalam alquran dan hadis, sehingga penggunaannya berhasil memunculkan berbagai macam karya akademik dalam disiplin ilmu agama, penerapan ini merupakan jawaban yang logis bahwa alquran dan hadis merupakan sumber pokok ajaran Islam, dan wahyu Allah sebagai sumber Ilmu dalam Islam.[30]
2. Metode Tajribi
            Metode ini dikenal juga sebagai metode observasi dan eksperimen yang merupakan metode ilmiah terbaik karena mengandalkan pengamatan indrawi dalam menelaah realitas material.
            Dalam filsafat barat modern, metode ini merupakan pondasi utama dalam pengetahuan manusia dan pembenran terhadap anggapan. Artinya, aliran ini menilai bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan informasi tentang dunia empirik.[31]
            Pengembangan metode ini yang digunakan dalam rangka mengembangkan ilmu alam dan ilmu sosial, dengan melalui metode ini dapat dijelaskan melalui tahapan, yaitu perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan. Perumusan ini dikenal sebagai scientific method yang dikembangkan oleh ilmuan barat.[32]
3. Metode Burhani
Metode ini dikenal dengan sebagai bahasan logika (mantiq), karena banyak sekali didalam alquran yang membicarakan pengetahuan melalui rasionalitas. Perintah menggunakan akal menjadi indikasi yang jelas didalam pencarian ilmu, meskipun ada ayat lain yang juga menjelaskan peranan hati nurani (intuisi) dalam mencari kebenaran ilmu.
            Dengan demikian, dengan menemukan kebenaran dan kebijaksaaan merupakan manfaat dari ilmu logika yang mempunyai fungsi sebagai tuntunan akal kepada arah yang benar serta sebagai alat bantu didalam memeriksa pengetahuan yang tidak luput dari kesalahan.
1.      Metode Irfani
Di dalam metode ini, kaum sufi mengandalkan aktivitas tazkiyah al-nafs untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt., dan ilmu hakiki hanya diraih dengan cara taqarub kepada sang pencipta. Dengan demikian, metode ini dikembangkan dari isyarat wahyu, metode para nabi dan rasul dan memberikan kenikmatan di dunia dan di akhirat.
Adapun ilmu yang didapatkan oleh kaum sufi adalah sesuatu yang diisyaratkan kepada ilmu yang diperoleh seorang hamba melalui ilham. Mereka memiliki pandangan bahwa segala sesuatu itu dapat diperoleh dan dicapai hanya dengan penyaksian, intuisi hati dan penyucian jiwa, bukan melalui daya nalar akal dan rasio.





SIMPULAN

Manusia diciptakan oleh Allah swt., sebagai khalifah di bumi ini mempunyai tugas untuk terus menggali dan mencari ilmu pengetahuan yang bersumber dari alquran dan hadis. Dengan kemapuan manusia dalam menggunakan akal, indera dan intuisi diharapkan untuk terus mengkaji serta menelaah sumber ilmu pengetahuan yang belum terpecahkan.
Kajian epistemologi merupakan cabang dari filsafat ilmu yang membahas tentang proses dan prosedur menggali ilmu, metode untuk meraih ilmu yang benar, makna dan kriteria kebenaran, serta sarana yang digunakan untuk mendapatkan ilmu.
Dengan merealisasikan keseluruhan potensi yang diberikan menjadikan manusia lebih bersyukur kepada Allah swt., maka tauhid merupakan prinsip dasar ilmu pengetahuan, yaitu prinsip yang menggariskan kebenaran yang datangnya dari Allah swt.
Adapun kemampuan manusia didalam menganlisis ayat-ayat melalui metode burhani, tajribi, bayani dan irfani membuat ilmu pengetahuan terus berkembang sampai dengan sekarang. Ilmu pengetahuan ini masih terus dikaji sehingga apa yang didapatkan menjadi berkembang dan senantiasa menjadikan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan manusia. Ilmu pengetahuan ini menjadikan manusia untuk selalu percaya kebenaran yang datangnya dari Allah swt. serta membuat manusia untuk selalu tunduk dan beribadah kepada-Nya.

           
DAFTAR PUSTAKA

al-Baqi’, Muhammad Fu’ad ‘Abd, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz Al-Quran
Al-Karim, Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th
Al-Ghazali, Ihya Ulumul ad-Diin, Kairo: Maktabah al-Amira al-Syafafiyyah, 1909
Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Diin, New Delhi: Islamic book Service, 2006
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam; Membangun Kerangka Ontologi,
            Epistemologi, dan Aksiologi Praktik Pendidikan, Bandung: Ciptapustaka, 2012
Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, Medan : Perdana Publishing,
 2015
Al-Sadr, Muhammad al-Baqir, Falsafatuna, Baghdad: Maktabah al-Wathaniyyah, 1977
al-Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 
2001
Amnah, Metodologi dan Pendekatan dalam Pengkajian Islam, Bandung: Citapustaka
 Media, 2013
Audi, Robert, The Cambridge Dictionary of Philoshopy, Cambridge: Cambridge
 University Press, 1999
Bagus, Loren, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
 Balai Pustaka, 1990
Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Alquran, Bandung: Mizan, 1991
Hartoko, Dick, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali, 1986
Hatta, Muhammad, Hubungan antara Akal, Penginderaan, Intuisi, Wahyu dalam
 Keilmuan Islam, Jurnal al-Itqan, Vol. VI, 2015
Ibnu Sina, Ahwal An-Nafs, ditahkik oleh Ahmad Fu’ad al-Ahwani, Mesir: Isal al-Babi
 al-Halabi wal Syirkuh, 1952
Runes, Dagobart D., Dictionary of Philosophy, New Jersey: Adams & Company, 1971
Kania, Dinar Dewi, Filsafat Ilmu, Jakarta: Gema Insani, 2013
Kertanegara, Mulyadhi, Menyibak Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam,
            Bandung: Mizan, 2003
Ladyman, James, Understanding Philosopy of Science, New York: London: Routledge,
 2002
Mubarak, Achmad, Jiwa dalam Alquran, Jakarta: Paramadina, 2000
Nasution, Harun, Islam ditinjau dari berbagai aspek, Jakarta: UI Press, 1978
Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1973
Suparta, Munzier, Ilmu Hadits, Jakarta: Rajawali Press, 2011
Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar
 Harapan, 1982
Suriamantri, Jujun, Ilmu dalam Persfektif, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991



[1]Robert Audi, The Cambridge Dictionary of Philoshopy (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), h. 273 dan Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam (Medan : Perdana Publishing, 2015), h. 79
[2] Amnah, Metodologi dan Pendekatan dalam Pengkajian Islam (Bandung: Citapustaka Media, 2013), h. 40
[3] Dagobart D. Runes, Dictionary of Philosophy (New Jersey: Adams & Company, 1971), h. 33
[4]James Ladyman,Understanding Philosopy of Science (New York: London: Routledge, 2002), h. 5; Al Rasyidin, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, ibid, h. 79
[5] Loren Bagus, Kamus Populer Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1996), h. 212; Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat (Jakarta: Rajawali, 1986), h. 22 dan Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, ibid, h. 79
[6]Harun Nasution, Filsafat Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 30
[7]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), h. 33 dan Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, ibid, h. 79
[8]Mulyadhi Kertanegara, Menyibak Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung: Mizan, 2003), h. 1-2
[9]Dinar Dewi Kania, Filsafat Ilmu (Jakarta: Gema Insani, 2013), h. 90
[10]Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam; Membangun Kerangka Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Praktik Pendidikan (Bandung: Ciptapustaka, 2012), h. 32
[11]Amnah, Metodologi dan Pendekatan dalam Pengkajian Islam,ibid, h.47
[12]Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an (Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001), h.37-38
[13]Munzier Suparta, Ilmu Hadits (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h. 4
[14]Dinar Dewi Kania, Filsafat Ilmu, Ibid, h. 92-93
[15]Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspek (Jakarta: UI Press,1978), h. 9
[16]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 14
[17]Achmad Mubarak, Jiwa dalam Alquran (Jakarta: Paramadina, 2000), h. 120 dan Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, Ibid, h. 86
[18]Achmad Mubarak, Jiwa dalam Alquran, Ibid, h. 119-120 dan Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, Ibid, h. 87
[19]Al-Ghazali, Ihya Ulumul ad-Diin (Kairo: Maktabah al-Amira al-Syafafiyyah, 1909), h.98
[20] Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Alquran (Bandung: Mizan, 1991), h. 110-114
[21] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi’, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz Al-Quran Al-Karim (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th), h. 34, 154-155, 456-457, 629
[22] Muhammad al-Baqir Al-Sadr, Falsafatuna (Baghdad: Maktabah al-Wathaniyyah, 1977), h. 88
[23] Ibnu Sina, Ahwal An-Nafs, ditahkik oleh Ahmad Fu’ad al-Ahwani (Mesir: Isal al-Babi al-Halabi wal Syirkuh, 1952), h.96
[24]Dinar Dewi Kania, Filsafat Ilmu, Ibid, h. 104
[25]Achmad Mubarak, Jiwa dalam Alquran , ibid, h. 111-118 dan Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, Ibid, h. 89-90
[26]Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Diin, (New Delhi: Islamic book Service, 2006), h. 7-9
[27]Ibid, h. 15-16, 25-26
[28]Muhammad Hatta, Hubungan antara Akal, Penginderaan, Intuisi, Wahyu dalam Keilmuan Islam (Jurnal al-Itqan, Vol. VI, 2015), h. 149
[29]Jujun Sumantri, Ilmu dalam Persfektif (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), h. 56 dan 59
[30]Al Rasyidin dan Ja’far, Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam, Ibid, h. 93 - 99
[31]Ibid, h. 102-103
[32]Suriasumantri, Filsafat ilmu, ibid, h. 119-140

Konsep Ta'lim dalam al Qur'an


Kata ta’lim seringkali digunakan dalam konsep pendidikan Islam. Makna ta’lim sendiri diambil dari bahasa Arab yang mempunyai kata dasar ‘allama (علّم), yu‘allimu ( يعلّم) dan ta’lim (تعليم). Penjabaran kata ta’lim secara bahasa mengandung banyak arti yang bisa diterjemahkan, seperti Information (pemberitaan tentang sesuatu), Advice (nasehat), Instruction (perintah), Direction (pengarahan), Teaching (pengajaran), Training (pelatihan), Schooling (pembelajaran), Education (pendidikan), Apprenticeship (bekerja sambil belajar).[1]Sedangkan dalam kamus bahasa Arab-Indonesia, kata ta’lim sendiri mengandung arti hal yang berhubungan dengan mengajar dan melatih.[2]Adapun secara istilah, kata ta’limsendiri dapat diartikan sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[3]
Bentuk masdar dari kata ta’lim adalah ‘allama yang mempunyai arti pengajaran yang bersifat penyampaian pengertian dan keterampilan.[4] Kata ta’lim sendiri banyak yang terulang didalam alquran berupa kata kerja dan kata benda. Dalam fi’il madhi dijelaskan sebanyak 25 kali dalam 25 ayat pada 15 surah, sedangkan dalam fi’il mudhari penyebutannya sebanyak 16 kali dalam 16 ayat pada 8 surah, adapun dalam bentuk kata benda hanya terdapat 1 kali dalam alquran surah ad-Dukhaan (44) ayat 14.[5]

B. Dalil alquran mengenai Ta’lim
Di dalam alquran ada beberapa ayat yang mengandungkata ta’lim dalam arti mengajar. Ada beberapa makna ta’lim yang dapat ditemukan pada alquran, yaitu: Pertama, Ta’lim Rabbani, yaitu penyampaian sesuatu melalui wahyu atau ilham, seperti Allah swt. mengajarkan nabi Adam as. mengenai nama-nama yang ada di alam semesta, sebagaimana firman Allah swt. yang dijelaskan dalam alquran surah al-Baqarah (2) ayat 31.
Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa dengan menjadikan manusia, Allah swt. memperlengkap pernyataan kuasa-Nya. Mereka namai tingkat-tingkat alam itu menurut tarafnya masing-masing. Ada alam Malaikat, ada pula alam Nabati, ada alam binatang dan lain-lain sebagainya. Maka diciptakan Tuhan-lah manusia, yang dinamai oleh setengah orang alam Insan atau alam Nasut.[6]
Pengertian makna asma’ didalam ayat tersebut banyak mengandung arti yang dapat ditafsirkan, seperti arti semua nama yang ada di bumi, sebuah nama yang terbatas pada objek yang juga terbatas, bahkan Ibnu Zayd mengartikannya sebagai nama-nama keturunan Nabi Adam as.[7]
Penggunaan kata ‘asma dikarenakan hubungannya kuat antara yang menamakan dan yang dinamai agar mudah dipahami. Sebab, ilmu yang hakiki itu ialah pemahaman terhadap pengetahuan. Allah swt. mengajari Adam as. kemudian memberinya ilham untuk mengetahui eksistensi nama-nama, keistimewaan, ciri khas dan istilah yang dipakai. Adapun dalam memberikan ilmu, tidak ada bedanya antara diberikan sekaligus dengan diberikan secara bertahap, karena Allah Maha Kuasa untuk berbuat segalanya, walaupun istilah yang digunakan didalam alquran adalah ‘allama (pengertiannya adalah memberikan ilmu secara bertahap).[8] Penafsiran lain juga menyatakan bahwa ulama memahami pengajaran nama-nama kepada Adam as. dalam arti bahwa Allah mengilhamkan nama benda itu pada saat dipaparkan sehingga beliau memiliki kemampuan untuk membedakan masing-masing benda dengan benda yang lain.[9]
Pemberian asma’ini menjadikan nabi Adam as. memiliki prestasi akademik yang bisa mengungguli para malaikat. Kehebatan ini merupakan pengajaran yang Allah swt. berikan sehingga membuat malaikat dan jin pun harus sujud kepada nabi Adam as.
Adapun kata ta’lim dapat didefiniskan sebagai sebuah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[10] Dengan demikian, proses tersebut dilakukan secara bertahap sebagaimana ketika Adam as. menyaksikan dan menganalisis nama-nama yang diajarkan kepadanya.[11]
Kedua, ketika mengajarkan alquran, firman Allah swt. dalam surah ar-Rahman (55) ayat 2 
Makna yang terkandung pada ayat ini adalah sebuah pengajaran yang tidak hanya sebatas pada penyebutan lafadz saja, akan tetapi ayat ini mengandung kepada alquran sebagai objek yang memiliki keutamaan yang bisa membawa manusia mendapatkankenikmatandi dunia dan di akhirat.[12]
Kajian terhadap objek yang dinilai sebagai nikmat dunia dan akhirat juga bisa dikatakan sebagai barometer yang didalamnya terdapat konsekuensi pengajaran yang bersifat intellectual exercise, sehingga menimbulkan kajian-kajian akademik yang tidak pernah berakhir sehingga menumbuhkan lahirnya pemahaman terhadap alquran, hal ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam surah al-Kahfi (18) ayat 109

Ketiga, mengajarkan sesuatu yang belum diketahui oleh manusia, firman Allah swt. dalam surah al-Baqarah (2) ayat 239 dan dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman dalam surah Yasin (36) ayat 69 serta surah al-Alaq (96) ayat 4 dan 5 juga dijelaskan bahwa Allah swt. memberikan pengajaran kepada manusia terhadap apa yang tidak diketahuinya.


Makna al-insan yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad saw. yang telah diajarkan Allah swt. mengenai apa yang belum diketahui oleh khalayak ramai, sehinggai menjadi isyarat bahwa Allah-lah yang memberikan pengajaran terhadap hukum-hukum yang tertulis yang tidak dapat dipahami kecuali melalui ilmu yang bersifat sam’iyat.[13]
            Dalam surah al-Alaq ini juga menunjukkan tentang keutamaan dari membaca, menulis dan ilmu pengetahuan. Jika tidak ada qalam (pena), maka kita tidak dapat memahami berbagai ilmu pengetahuan, sampai dengan tidak dapat mengetahui kadar pengetahuan manusia terdahulu dan penemuan-penemuan serta kebudayaan mereka. Selanjutnya, ayat ini juga terkandung bukti yang menujukkan bahwa Allah swt. yang menciptakan manusia dalam keadaan hidup dan berbicara dari sesuatu yang tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, sampai kemudian Allah swt. mengajari manusia ilmu yang paling utama, yaitu menulis dan menganugerahkannya ilmu pengetahuan.[14]
Jika dilihat dari penafsiran ayat-ayat telah disebutkan, maka kata ‘allama merujuk kepada konteks pengajaran secara keseluruhan bukan hanya kepada Nabi saja tapi juga kepada seluruh umat manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah ar-Rahman.[15]Dalam hal mengajar (muallim) dimaksud disini adalah memberitahukan dari yang tidak tahu menjadi tahu dan hal ini yang merupakan nikmat Allah swt. bagi orang-orang mukmin, sebagaimana Allah swt. berfirman dalam surah An-Nissa (4) ayat 113.

Keempat, ketika mengajarkan al-kitab (cara menulis), al-hikmah (ilmu yang benar), Taurat dan Injil, firman Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran (3) ayat 48 dan dalam surah al-Maidah (5) ayat 110. 
Asbabun Nuzul dari kedua ayat ini (surah ali Imran ayat 48 dan surah al-Maidah ayat 110 ) menceritakan tentang kecaman terhadap umat yang membangkang kepada rasul, karena mereka telah memperlakukan para rasul secara sangat tidak wajar, khususnya kepada nabi Isa as., akan tetapi Allah memberikan pemahaman dan pengajaran kepada umat manusia mengenai kekuasaan-Nya secara bertahap agar manusia dapat menerima kebenaran dari sebuah ilmu yang belum mereka ketahui. Dengan cara mengajari cara menulis dan ilmu yang benar, manusia dapat membangkitkan kemauan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat untuk membuktikan kebenaran apa yang telah diturunkan Allah. Adapun dasar-dasar mukjizat yang diberikan Allah bukan terletak pada keajaibannya, akan tetapi terletak pada cara dari pembuatannya yang di luar hukum alam.[16]
Firman Allah swt. dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 151.
            Dalam ayat ini, Allah swt. memberikan jawaban dari doa nabi Ibrahim as., yaitu Rasul dari kelompok mereka, membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan mereka, mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah serta mengajarkan apa yang mereka belum ketahui. Cakupan dari kalimat mengajarkan melalui dua cara, yaitu mengisyarakat berupa wahyu Allah berupa ilham serta intusi dan melalui upaya belajar mengajar.[17]
Berdasarkan ayat ini, bahwa proses ta’lim lebih universal dibandingkan dengan proses tarbiyyah, dikarenakan mengajarkan disini tidak terbatas sekadar membaca, akan tetapi dengan perenungan yang berisi pemahaman, rasa tanggung jawab dan amanah. Dari menggunakan metode ini Rasulullah saw. membawa mereka kepada pembersihan diri (tazkiyyah) dan menjadikan diri berada dalam kondisi yang memungkinkan dalam menerima al-Hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk dapat diketahui.[18]
Dalam konteks yang lain, kata ta’lim yang berbentuk fiil mudhari’ digunakan juga dalam pengungkapan sebuah pengajaran yang terjadi antara nabi Muhammad saw. dengan malaikat Jibril terkait dengan beberapa yang ditanyakan seperti makna Islam, Iman dan Ihsan. Dari hadis ini menjadi sebuah proses pengajaran atau pendidikan yang memiliki makna yang cukup luas.
Kelima, mengajarkan ilmu laduni, firman Allah swt. dalam surah al-Kahfi (18) ayat 65.
Keenam, mengajarkan tentang masalah sihir, firman Allah swt. dalam surah at-Thaahaa (20) ayat 71.

Pada ayat yang lain, Allah swt. juga mengajarkan bagaimana cara berburu, sebagaimana dalam alquran surah al-Maidah (5) ayat 4.
       Dengan kata lain, kata ta’lim pada penjelasan ayat di atas, Allah swt. mengajarkan kepada kita tentang arti sebuah proses transformasi ilmu pengajaran berupa ilmu pengetahuan, wahyu dan sesuatu yang belum diketahui oleh manusia sebagai pemimpin di bumi.
       Di dalam ayat yang lain kata ta’limmerupakan proses pembelajaran secara terus-menurus yang dimulai ketika manusia lahir, sebagaimana dalam alquran surah an-Nahl (16) ayat 78.

      Pada ayat yang lain bahkan Allah swt. memerintahkan agar proses belajar itu tidak ada batas waktunya, dalam hal ini bahwasanya belajar itu sampai tua atau bahkan sampai wafat (meninggal), sebagaimana firman Allah swt. dalam surah al-Hajj (22) ayat 5.

           Dalam hal proses pembelajaran, Muhammad saw. diutus untuk mengajarkan syariat dan urusan akal yang dapat menyempurnakan jiwa dan membersihkannya.[19] Pengajaran yang dimaksud dalam hal ini adalah menujukkan kepada kegiatan yang berulang-ulang, sebagaimana dapat dijelaskan dalam alquran surah al-Jumu’ah (62) ayat 2.


C. Konsep Ta’lim
Menurut pendapat sebagaian para ulama tafsir mengenai definisi tentang kalimat ta’lim, yaitu:
1.  Pendapat Rasyid Ridha, Ta’lim adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[20]
2. Abdul Fattah Jalal berpendapat yang dimaksud dengan ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah, sehingga terjadi pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-Hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat dan yang tidak diketahuinya.[21]
3.  Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasy memberikan penjelasan yang berbeda dengan ulama yang lain mengenai makna ta’lim. Kata ta’lim yang dimaksud mempunyai makna dalam menyiapkan individu pada aspek tertentu saja, sedangkan tarbiyyah mencakup keseluruhan aspek pendidikan.[22]
Dari pendapat ulama tafsir, term ta’lim dalam pendidikan bahwa manusia mempunyai kemampuan mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta menangkap bahasa, sehingga mengantarkannya untuk mengetahui. Kemampuan dalam merumuskan ini merupakan langkah menuju terciptanya pengetahuan dan ilmu pengetahuan.[23] Cakupan Ta’lim juga tidak berhenti pada pengetahuan lahirah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang kaji secara lisan, dan menyuruh melaksanakan pengetahuan itu. 
Jika kita telaah lebih jauh lagi tentang bentuk lain dari ta’lim yaitu kata ‘ulama seakan menjadi term alquran dalam rangka menunjukan proses transformasi keilmuan melalui penelitian dan pengkajian. Hasil dari analisis yang dilakukan merupakan pengantar tentang kebenaran tentang adanya pengajaran yang dilakukan Allah swt. yang menjadi tanda tentang tujuan para nabi dan rasul diutus ke bumi ini.
           
Kesimpulan
Setelah kita mencoba mentelaah ayat-ayat alquran mengenai ta’lim, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pemahaman bahwa ta’lim mencakup lebih universal dikarenakan proses pengajaran dan pendidikan itu dimulai dari bayi sampai dengan tua bahkan sampai meninggal.
Allah swt. mengajarkan kepada kita tentang arti sebuah proses transformasi ilmu pengajaran  berupa ilmu pengetahuan, wahyu dan sesuatu yang belum diketahui oleh manusia sebagai pemimpin di bumi. Oleh karena itu, ta’lim yang dimaksud didalam alquran menunjukan kepada proses pengajaran dan pendidikan yang tidak hanya diperuntukan untuk utusan Allah saja, akan tetapi kepada semua manusia yang mempunyai tujuan untuk mengubah manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu agar pendidikan itu terus perkembangan dan kemajuan.
Makna pada ayat-ayat alquran mengenai makna ta’lim menunjukkan bahwa Muhammad saw. dalam mengajarkan bacaan alquran tidak hanya dapat membaca dan hafal akan lafazh-lafazhnya, akan tetapi membaca dengan renungan dan pemahaman, kemudian menyucikan diri dan mendidiknya, selanjutnya melahirkan amal yang dapat menjadi contoh bagi yang lain baik dalam perkataan dan juga perbuatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Fatah Jalal, 1977, Min al-Ushul  al-Tarbawiyyah fi al-Islam, (Kairo: MarkazDauly li at-Ta’lim al-Wahdhifi li al-Kubar fi al-Ilm al-Araby)

Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), 2005, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1,(Jakarta: PT Mitra Kerjaya Indonesia, cet. Ke-6)

‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras

‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq, Lubaabut Tafsir min Ibni Katsiir Jilid 1, 2008, (Jakarta: Pustaka Imam Syafii)

Ahmad Musthafa Al-Marâghi, 1969,  Tafsír al-Marâghi, Jilid I, (Mesir: Musthafa al-Bâb al-Halaby, cet. ke-IV)

Ahmad Mustafa al-Maragi, 1992, Tafsir al-Maragi, Juz 1, (Semarang: CV. Toha Putra Semarang, cet. Ke-2,)

Hans Wehr, 1974,  Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Mu’asharah (A Dictionary of Modern Written Arabic), (Ed), J. Milton Cowan (Beirut: Librarie Du Liban & London: Macdonald & Evans LTD)

Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, Ruh al-Tarbiyyahwa al-Ta’lim, (Saudi Arabia: Dar al-Ahya)

Muhammad Rasyid Ridha, 1373 H, Tafsir Al-Manar, Juz 1, (Kairo: Dar al-Manar)

Muhammad RasyidRidha, Tafsir al-Manar, (Kairo: Dar al-Fikr, cet. 2), Jilid 1

M. QuraisyShihab, 2002, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasianalquran, (Jakarta: LenteraHati)

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, t.t)

Tafsir al-Alusi , al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws)

Tafsir ar-Razi, al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws)

Tafsir al-Thabari, al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws)

Zakiah Drajat, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara)

Zayd al-Masyir, al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws)




[1]Hans Wehr, Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Mu’asharah (A Dictionary of Modern Written Arabic), (Ed), J. Milton Cowan (Beirut: Librarie Du Liban& London: Macdonald & Evans LTD, 1974) h. 636
[2]Mahmud Yunus,Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. HidakaryaAgung, t.t) h. 136
[3]Muhammad RasyidRidha, Tafsir Al-Manar, Juz 1, (Kairo: Dar al-Manar,1373 H), h. 262
[4]ZakiahDrajat, IlmuPendidikan Islam, (Jakarta: BumiAksara, 1996), h.26
[5]‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, h. 689
[6]AbdulmalikAbdulkarimAmrullah (Hamka), Tafsir Al-Azhar, Jilid 1,(Jakarta: PT MitraKerjaya Indonesia, cet. Ke-6, 2005), h. 157
[7]Zayd al-Masyir, al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws) Juz 1, h. 43
[8]Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Juz 1, (Semarang: CV. Toha Putra Semarang, cet. Ke-2, 1992), h. 139-140
[9]M. QuraisyShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasianalquran, (Jakarta: LenteraHati, 2002), h. 146-147
[10]Muhammad RasyidRidha, Tafsir al-Manar, (Kairo: Dar al-Fikr, cet. 2, t.th), Jilid 1, h.262
[11]Abdul Fatah Jalal, Min al-Ushul  al-Tarbawiyyah fi al-Islam, (Kairo: MarkazDauly li at-Ta’lim al-Wahdhifi li al-Kubar fi al-Ilm al-Araby, 1977), h. 26
[12]Tafsir al-Alusi , al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws) Juz 20, h. 110
[13]Tafsirar-Razi,al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws) Juz 17, h. 107-109
[14]Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Juz 1, (Semarang: CV. Toha Putra Semarang, cet. Ke-2, 1992), h. 347-348
[15]Tafsir al-Thabari, al-Maktabah al-Syamilah, (www.shamela.ws) Juz 22, h. 7
[16]Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Juz 1, (Semarang: CV. Toha Putra Semarang, cet. Ke-2, 1992), h. 275-284
[17]M. QuraisyShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasianalquran, (Jakarta: LenteraHati, 2002), h. 361
[18]Abdul Fatah Jalal, Min al-Ushul  al-Tarbawiyyah fi al-Islam, (Kairo: MarkazDauly li at-Ta’lim al-Wahdhifi li al-Kubar fi al-Ilm al-Araby, 1977), h. 27
[19]Ahmad Musthafa Al-Marâghi, Tafsír al-Marâghi, Jilid I (Mesir: Musthafa al-Bâb al-Halaby, cet. ke-IV, 1969) h. 83
[20]Muhammad RasyidRidha, Tafsir al-Manar, (Kairo: Dar al-Fikr, cet. 2, t.th), Jilid 1, h.262
[21]Abdul Fatah Jalal, Min al-Ushul  al-Tarbawiyyah fi al-Islam, (Kairo: MarkazDauly li at-Ta’lim al-Wahdhifi li al-Kubar fi al-Ilm al-Araby, 1977), h. 27
[22]Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, Ruh al-Tarbiyyahwa al-Ta’lim, (Saudi Arabia: Dar al-Ahya, t.th), h.7
[23]M. QuraisyShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasianalquran, (Jakarta: LenteraHati, 2002), h. 147

Rabu, 02 April 2014

17 Kelebihan Bahasa Indonesia



  1. Dijadikan Bahasa Resmi Ke - 2 di Vietnam. Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam, mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia.
  2. Bahasa Indonesia dipelajari lebih dari 45 Negara di dunia. Walaupun yang paling efektif merubah citra adalah merubah realitas, namun peran budaya dan bahasa Indonesia dalam diplomasi sangat krusial. Tingginya minat orang asing belajar bahasa dan budaya Indonesia harus disambut positif. Kalau perlu Indonesia menambah Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara, guna membangun saling pengertian dan perbaiki citra. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi mengemukakan hal itu ketika tampil pada pleno Kongres IX Bahasa Indonesia, yang membahas Bahasa Indonesia sebagai Media Diplomasi dalam Membangun Citra Indonesia di Dunia Internasional, Rabu (29/10) di Jakarta. “Saat ini ada 45 negara yang ada mengajarkan bahasa Indonesia, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya,” katanya.
  3. Wikipedia bahasa Indonesia yang menduduki peringkat ke 26 di dunia dan Terbesar Ketiga di Asia. Menulis ensiklopedia bebas di internet semakin digemari masyarakat Indonesia. Bahkan ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Wikipedia Indonesia, telah menjadi ensiklopedia elektronik terbesar ketiga setelah Wikipedia berbahasa Jepang dan Mandarin. “Wikipedia Indonesia kini berada di peringkat 26 dari 250 Wikipedia berbahasa asing di dunia".
  4. Bahasa Indonesia bahasa ketiga yang paling banyak digunakan pada wordpress. Fakta bahwa setelah Spanyol, Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang menempati urutan ketiga yang paling banyak digunakan dalam posting-posting­ WordPress. Indonesia pun adalah negara kedua terbesar di dunia yang pertumbuhannya paling cepat dalam penggunaan engine blog itu. Dalam 6 bulan terakhir tercatat 143.108 pengguna baru WordPress dari Indonesia dan telah ada 117.601.633 kunjungan melalui 40 kota di Indonesia.
  5. Bahasa dan Musik Indonesia dikirim ke luar angkasa. Satelit Voyager adalah sebuah wahana luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan amerika serikat tahun 1977. Digerakkan dengan tenaga nuklir, voyager diharapkan mampu mengirim data ke bumi sampai tahun 2025 ( 48 tahun setelah diluncurkan) sebelum pasokan listriknya habis.
    Isi dari piringan emas ini dipilih untuk NASA oleh sebuah tim yang diketuai oleh Carl Sagan dari Universitas Cornell. Dr. Sagan dan timnya mengumpulkan 115 gambar berikut sebuah rekaman suara-suara alam, seperti suara ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara dari ikan paus. Selain itu, piringan ini juga diisi dengan musik dari berbagai budaya dan era yang berbeda, serta ucapan salam dalam 55 bahasa termasuk diantaranya bahasa Indonesia.
  6. Keunikan Angka dalam Bahasa Indonesia. Ternyata setiap bilangan mempunyai saudara ditandai dengan huruf awal yang sama. Bila kedua saudara ini dijumlahkan angkanya, maka hasilnya pasti sepuluh. Contohnya Satu dan Sembilan mempunyai huruf awal, yaitu S, dan bila dijumlahkan satu dan sembilan hasilnya adalah sepuluh. Begitu juga dengan Dua dan Delapan, Tiga dan Tujuh kemudian Empat dan Enam. Berturut-turut sampai dengan angka Lima. Lima dijumlahkan dengan dirinya sendiri juga hasilnya sepuluh.
  7. Paling Populer di Australia. Perlu kamu tahu nih kawan, di Australia, bahasa Indonesia merupakan bahasa paling populer keempat. Ada kurang lebih 500 sekolah pada tingkat pendidikan dasar yang mengajarkan bahasa Indonesia di negara kanguru ini. Sama seperti di Negara kita, Bahasa Indonesia adalah bahasa yang wajib dipelajari di tingkat sekolah dasar. Beberapa universitas di Australia ini juga ada yang menyediakan jurusan bahasa atau sastra Indonesia, hal ini membuat Australia menjadi salah satu negara yang paling populer mengembangkan bahasa Indonesia. jadi jangan heran kalau kamu sedang berkunjung ke Australia, kamu menemukan anak-anak SD yang bisa menyapa kita dengan sapaan khas orang Indonesia ‘Selamat pagi, apa kabar?’
  8. Pusat Studi Indonesia di Afrika. Salah satu Negara di benua Afrika, yaitu Mesir tercatat sebagai negara yang paling utama mengembangkan bahasa Indonesia, kawan. Negara piramid dan sphinx ini baru saja membangun Pusat Studi Indonesia lho. Pusat Studi ini ada di Suez Canal University, dan merupakan langkah awal untuk lebih mendalami Indonesia dari semua aspek, mencakup ideologi, politik, sosial dan budaya, ekonomi dan pertahanan keamanannya
  9. Menjadi Bahasa Pilihan di Situs Klub Sepak Bola. Siapa coba yang nggak tahu Juventus, Intermilan, dan AC Milan. Yup, tiga klub sepak bola di Itali ini telah meluncurkan situs resmi mereka dalam bahasa Indonesia. Hal itu menunjukan kalau Itali juga memiliki minat mendalam terhadap bahasa Indonesia. Wow!
  10. Lama di Jepang. Di negara matahari terbit ini sudah lama didirikan pusat-pusat studi Indonesia, kawan. Salah satunya yang didirikan oleh Nihon-Indonesia Gakkai atau Perhimpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang tahun 1969. 
  11. Bahasa yang Diprioritaskan di Vietnam. Vietnam juga merupakan negara yang menghargai bahasa Indonesia. Di Vietnam, posisi bahasa Indonesia sejajar dengan bahasa Inggris, Perancis dan Jepang sebagai bahasa resmi yang diprioritaskan.
  12. Bahasa sehari-hari yang sering digunakan di Timor Leste. Sudah tahu kan bahwa dulu Timor Leste adalah bagian dari NKRI, namun meskipun sudah memisahkan diri masih banyak warganya yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, seperti dalam bertransaksi di pasar, bahasa pengantar dalam pendidikan, dsb
  13. Perwira di Kamboja wajib bisa berbahasa Indonesia. Buku - buku taktik perang karangan perwira militer Indonesia banyak digunakan oleh militer Kamboja. Oleh karenanya, para calon perwira di militer Kamboja, wajib belajar dan dapat berbahasa Indonesia. (wikipedia)
  14. Bahasa Indonesia Akan Menjadi Bahasa Resmi ASEAN. Bila tak ada halangan pada bulan September nanti, para delegasi ASEAN Inter-Parliamentary Assemby (AIPA) menggelar pertemuan lanjutandi Kamboja. Yang menarik, dalam pertemuan itu akan diputuskan, apakah bahasa Indonesia akan menjadi bahasa resmi negara-negara ASEAN. Hal ini terungkap dari pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie yang menjadi salah seorang delegasi Indonsia disela-sela pertemuan tingkat tinggi KTT. (topix)

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wacana agar mendorong bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ASEAN kembali mengemuka. Kali ini diutarakan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan yang tampil sebagai Keynote Speaker dalam seminar sehari Prisma Resource Center, bertajuk 'Ekonomi Politik Bahasa Indonesia, Identitas Bangsa: Bangga Berbahasa Indonesia' yang berlangsung di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jakarta, Senin, (28/10).

    Seminar dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ini menghadirkan pembicara, Rocky Gerung (FIB-UI), Ignas kleden (KID), Daniel Dhakidae (Prisma), Akhmad Kusaeni (Pemred LKBN ANTARA) dan Asro Kamal Rokan (wartawan senior).

    ''Sudah saatnya bahasa Indonesia dijadikan bahasa pemersatu ASEAN dan saya juga akan usulkan bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi PBB,'' ujar Gita yang menekankan bahwa bahasa Indonesia telah memainkan peran strategis sebagai jendela untuk melihat dan memahami perkembangan umat manusia dan peradaban dunia.

    ''Hal yang juga ikut membanggakan kita sebagai warga Indonesia adalah tumbuh dan berkembangnya kajian-kajian bahasa Indonesia di berbagai perguruan tinggi di sejumlah negara sahabat,'' terang Gita.

    Dijelaskan Gita, salah satu daya tarik bahasa Indonesia bagi kebanyakan pemerhati atau ilmuwan asing adalah kemampuannya yang luar biasa untuk menyatukan lebih dari 300 etnis yang memiliki bahasa masing-masing dan tersebar di lebih dari 17.000 pulau.

    ''Sepertinya, tidak ada negeri lain di dunia ini yang memiliki kemajemukan sosial budaya dan geografis sebagaimana negeri kita,'' jelasnya yang menambahkan sulit dibayangkan, apa yang akan terjadi di hamparan ribuan pulau ini tanpa kehadiran bahasa Indonesia.

    Diungkapkan Gita, di Vietnam, bahasa Indonesia sejajar dengan bahasa Inggris, Prancis, dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan. Vietnam merupakan anggota ASEAN pertama yang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kedua di negaranya.

    Sedangkan di Malaysia, Singapura, Brunai dan Timor-Timor, penggunaan bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa sehari-hari. ''Jadi mau apa lagi, bahasa Indonesia sudah teruji sebagai alat pemersatu. Pokoknya, di setiap kesempatan saya akan mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi utama ASEAN,'' kata Gita.
  15. Lagu Indonesia yang terkenal di Jepang dan Rusia. Bengawan Solo adalah sebuah lagu Indonesia berirama keroncong yang terkenal ciptaan Gesang. Diciptakan pada tahun 1940, lagu ini terinsipirasi dari sebuah sungai asli dengan nama yang sama di Jawa Tengah. Liriknya mendeskripsikan sungai tersebut dengan gaya yang nostalgia. Setelah Perang Dunia II, pasukan Jepang yang kembali ke negaranya membawa lagu ini bersama mereka. Di sana, lagu ini menjadi populer setelah dinyanyikan berbagai penyanyi, di antaranya Toshi Matsuda. Di Uni Soviet lagu itu dinyanyikan dengan suikses oleh penyanyi Maya Golovnya.
  16. Karya Sastra Indonesia yang diterjemahkan dalam 30 bahasa. Novel Bumi Manusia karya Promedya sudah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa, sayang di negara sendiri buku ini dilarang oleh pemerintah di masanya. Banyak penghargaan yang di dapatkan dari karya sastra ini, tidak hanya itu hebatnya karya sastra ini menjadi nominasi peraih nobel sastra dan satu-satunya dari Indonesia yang pernah ada. (nafibuncis)
  17. "Ve, Hantam Mereka," kata Joe Taslim di Film Fast & Furious 6. Dalam sebuah adegan lari dengan Dom (Vin Diesel), Joe mengucapkan kalimat: 'Ve, hantam mereka'.

    Langsung saja, penonton kaget dan bersorak girang Joe bicara bahasa Indonesia meski hanya dua kata. Ada kebanggaan, orang Indonesia bicara bahasa Indonesia di film besar Hollywood.

    Joe Taslim sendiri tak menyangka salah satu adegan berbahasa Indonesia itu tak dipotong sutradara, Justin Lin. Menurut Joe, bahasa Indonesianya di film tersebut sebagai penegasan, bahwa dirinya aktor dari Indonesia. (medanbagus .com)
  18.  
    Sumber : Keunikan dan Kelebihan Bahasa Indonesia

Jumat, 13 September 2013

Seminar Sehari "Tasawuf sebagai solusi Kesehatan Mental"



Acara Seminar sehari ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Filsafat Universitas Pembangunan Panca Budi Saimara Sebayang, SE., M.Si. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa Fakultas Filsafat harus mampu menjawab tantangan persoalan hidup manusia, yang mana saat ini semakin komplek. Manusia terus berusaha keras untuk mengatasinya namun semua masalah masih tetap seperti semula dan bahkan masih terus bertambah dan belum jelas penyelesaiannya. Dalam seminar ini sangat diharapkan muncul ide-ide kreatif yang mengantarkan kita kepada pemahaman hidup yang benar  untuk menyehatkan mental sesuai petunjuk Allah dan RasulNya.

(ki-ka): Saya, R. Hidayatin, Prof Budi, Soritaon, Budi Saimara, S
Prof. Dr. H. Budi Santoso, M.Sc. APU (Pakar Tasawuf dan Metafisika) Guru Basar Universitas Pembangunan Panca Budi membawakan materi Kesehatan ditinjau dari Medis dan Tasawuf. Nara sumber pertama menyampaikan bahwa Kemajuan yang telah merambah dari berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, budaya dan politik, mengharuskan individu untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan pasti. Padahal dalam kenyataannya tidak semua individu mampu melakukannya sehingga yang terjadi justru masyarakat atau manusia banyak menyimpan berbagai problem psikis dan fisik, dengan demikian dibutuhkan cara efektif untuk mengatasinya.
Berbicara masalah solusi, kini muncul kecenderungan masyarakat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual (tasawuf). Tasawuf sebagai inti ajaran Islam muncul dengan memberi solusi dan terapi bagi problem manusia dengan cara mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pencipta. Selain itu berkembang pula kegiatan konseling yang memang bertujuan membantu seseorang menyelesaikan masalah. Karena semua masalah pasti ada penyelesaiannya serta segala penyakit pasti ada obatnya. Peluang tasawuf dalam menangani penyakit-penyakit psikologis atas segala problem manusia, semakin terbentang lebar di era modern ini.
Rahmadani Hidayatin, S.Psi., M.Kes. (Psikolog Nasional, Ketua Umum Himpunan Psikolog Sumatera Utara) membawakan materi Tasawuf, Psikologi dan Kesehatan Mental Narasumber kedua mengatakan bahwa ada tiga asumsi  tentang penyakit kejiwaan yang pertama pada dasarnya jiwa manusia itu SAKIT, kecuali dalam kondisi tertentu dinyatakan SEHAT. Kedua pada dasarnya jiwa manusia itu NETRAL (tidak sakit, tidak juga sehat). Ketiga pada dasarnya jiwa manusia itu SEHAT, kecuali dalam kondisi tertentu dinyatakan SAKIT. Jiwa yang sakit menyebabkan kegoncangan jiwa, mental kepribadian, tidak punya kebebasan hidup, selalu gelisah dan resah, bimbang berkepanjangan dan hidup serasa dipenjara. Kajian Psikologi tidak menyentuh ajaran agama atau keyakinan seseorang, melainkan mengarah pada aplikasi prinsip-prinsip psikologis perilaku keberagaman sesesorang yang menghasilkan kesadaran keagamaan dan pengalaman keagamaan untuk itu Kajian terapi psikologis perlu melibatkan pengkajian sufistik.
Sementara Drs. Soritaon Siregar (Ahli Tasawuf dan Praktisi Metafisika) Universitas Pembangunan Panca Budi membawakan materi Tasawuf solusi bagi Kesehatan Mental. Dalam materinya beliau menyebutkan bahwa peranan tasawuf dalam memperbaiki dan menyehatkan jiwa dan mental manusia. Tasawuf adalah proses Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) sebagaimana sabda Nabi “ segala sesuatu ada alat pembersihnya dan alat penyuci hati adalah dzikrullah”.

Acara berlangsung dengan tertib dimana para peserta tampak sangat antusias dengan apa yang disampaikan oleh para nara sumber. Nur Absah, salah satu peserta dari kegiatan ini mengatakan bahwa acara seminar ini sangat berguna untuk pendalaman dari berbagai segi keilmuan baik melalui Tasawuf, Metafisika maupun Psikologi guna menunjang peningkatan pemahaman spiritual, kesehatan dan mental manusia.
Peserta Seminar dan Pemateri seusai mengisi acara Seminar Sehari
Minon Abdullah selaku Ketua Panitia mengatakan sangat apresiasi dengan apa yang dirasakan oleh para peserta lewat materi yang disampaikan oleh para nara sumber dan diharapkan melalui kegiatan ini bisa meningkatkan mutu pendidikan di Perguruan Tinggi khususnya bagi mahasiswa Fakultas Filsafat Unpab, jelasnya.Tema-tema yang disampaikan dalam seminar kali ini adalah kajian yang sedang hangat dibicarakan secara global terutama tentang Tasawuf, Psikologi dan Kesehatan Mental.

Sumber : http://ff.pancabudi.ac.id/news/seminar-sehari-tasawuf-sebagai-solusi-kesehatan-mental.html

Rabu, 11 September 2013

FAKTA tentang ANAK SMA

Masa usia SMA adalah masa transisi, mereka mencari-cari apa dan siapa dirinya sebenarnya. kebanyakan dari mereka gagal dalam mencari jati diri dan terjerumus dalam kegagalan. namun ada yang sementara dan ada yang berkelanjutan.

1. Anak SMA sangat muda tergoda dengan masalah SEX.
Hal ini muncul dikarenakan pergaulan dari mereka masing-masing, misal seseorang teman mampunyai cerita tersendiri mengenai sex, kemudian dia menceritakan terhadap temannya. hal ini jelas mempengaruhi pikiran temannya. dan secara naluri mereka akan mencari hal yang sama. namun karena mereka adalah pemula maka mereka akan terjebak akan hal ini dan merasa bingung jika terjadi hal yang salah. contoh : pasangannnya sampai hamil. maka saran saya agar tidak terlalu tersugesti dan mencari akan hal ini jika teman kalian menceritakan akan hal ini.

2. Mudah Tersulut Emosi

Masa SMA adalah masa yang sangat menari sekaligus menangtang. kebanyakan dari mereka merasa bahwa mereka diatas segalanya. mereka mempunyai cita-cita sekaligus ambisi yang berkobar. secara psikologis ini normal, bahkan cenderung baik, dan hal ini sangat baik jika kita mampu mengendalikan semangat demi kemajuan sekolah atau negaranya.

Yang menjadi dasar atas semuanya itu adalah kebersamaan. terkadang anak usia ini menjadi lebih berani dalam melakukan suatu hal yang extrim sekalipun asalkan dilakukan bersama-sama. efek buruk dari hal ini adalah munculnya istilah berani karena banyak bukan berani karena benar.

3. Suka membanggakan diri.

banyak hal yang bisa di banggakan , seperti skill(kemampuan), harta, kecantikan, ketampanan. namun hal ini hanya akan memuat orang lain merasa terganggu, dan muncul rasa kurang nyaman yang bisa berakibat fatal. misal anda merasa mempunyai kemampuan lebih dari yang lain, baik dalam bidang pelajaran , olahraga, musik atau yang lainnya. jika anda tidak mempunyai rasa rendah hati maka orang akan cenderung kurang mendukun atas apa yang anda miliki.

4. Mudah tergoda dunia glamor.
Teman yang kita bilang keren atau kaya akan menajadi patokan kita, walau maaf keadaan kita disebut kurang mampu. sampai kita merenngek keras pada orang tua untuk minta diberikat sesuatu yang diluar jangkauan.

saya juga bukan anak orang kaya, namun patokan keren bukanlah harta sobat! keren adalah sesuatu yang kita miliki dengan hasil sendiri namun orang lain tidak punya hal tersebut.
banggalah terhadap kemampuan sendiri karena tidak semua orang bisa seperti kita

Fakta lain dari anak SMA : 
1. Pelajaran yang paling disukai anak SMA adalah pelajaran kosong.
2. Saat pelajaran kosong lebih banyak dihabiskan di kantin.
3. Anak SMA memiliki kebiasaan unik, yaitu mencurahkan isi hati di bangku, dinding, bahkan baju temannya sendiri. Kebanyakan pelakunya adalah siswa putri. Misalnya “hatiku hancur melihatmu dengannya, ketahuilah hatiku juga bisa remuk, tak sekuat tulang ayam” atau “pengen cepet pulang terus ketemu ayangku”
4. Kebiasaan unik lainnya adalah, menulis pesan singkat di bangku dan berharap ada yang membalas. Misal “Aku Rina kelas 11 IPA 1, mau kenal? Aku cantik loh”. Bahkan ada juga yang narsis menuliskan nomor handphone, pin BB, e-mail, alamat rumah, dan kriteria diri untuk mencari jodoh.
5. Banyak sekali rumus-rumus yang ditemukan di bangku, dan tembok.
6. Anak SMA memiliki penglihatan yang sangat tajam karena bisa membaca tulisan sangat kecil di contekan mereka.
7. Anggota OSIS adalah yang paling narsis.
8. Hari senin adalah hari yang paling tidak disukai. Karena jauh dengan akhir pekan.
9. Saat anak laki-laki berkerumun, itu patut dicurigai.
10. Tempat yang paling diincar saat ulangan adalah paling belakang.
11. Anak SMA lebih suka ujian bersama daripada ujian sendiri.
12. Menyoraki guru atau teman saat di kelas adalah kegiatan melepas stress.
13. Menggoda adik kelas yang bahenol itu menyenangkan. Mengolok-olok teman juga menyenangkan. Begitu juga dengan batal ulangan.
14. Jika Anda pintar, tapi pelit. Hati-hati.
15. Saat awal kelas tiga, siswi putri sudah membicarakan promnite.
16. Jika Anda belum belajar saat akan ulangan, tenang. Siapkan uang untuk mentraktir teman Anda.
17. Ciuman pertama mayoritas dirasakan saat SMA.
18. Bermain upil (kotoran hidung) saat pelajaran adalah keusilan paling menjijikkan.
19. Musyawarah satu kelas biasanya dilakukan untuk memutuskan memanggil guru piket atau tidak.
20. Ketua kelas paling sering disuruh-suruh. Sehingga ketua kelas = PU (pembantu umum)
21. PR biasa dikerjakan pada pagi-pagi hari sekali di kelas.
22. Guru killer paling sering dibicarakan oleh muridnya, bahkan sampai diberi sumpah serapah.
23. Siswa laki-laki adalah biang keramaian di kelas.
24. Jika ada teman yang dihukum di depan kelas, malah ditertawai.
25. Tepung dan telur biasanya juga nyasar ke sekolah.
26. Siswi perempuan adalah biang keheningan di kelas, namun tidak jarang, mereka biang keramaian
27. Anak SMA lebih sering pergi ke toilet saat pelajaran dibanding saat istirahat.
28. Target keusilan dan olok-olok kebanyakan adalah anak-anak culun.
29. Ada 1001 alasan saat tidak mengumpulkan PR. Namun, yang paling sering adalah “lupa bu”
30. Jari telunjuk adalah jawaban A, ditambah jari tengah menjadi jawaban B, ditambah jari tengah dan jari manis menjadi jawaban C. dan seterusnya.
31. Senior biasanya lebih dihormati.
32. MOS adalah saat yang menyenangkan bagi kakak kelas.
33. Sesuatu yang paling ditunggu adalah bel pulang sekolah.
34. Liburan mengakibatkan sebagian rumus hilang dari ingatan.
35. Siswa-siswi jurusan IPS biasanya lebih seru dan gokil dari jurusan lainnya.
36. Kebanyakan anak kelas tiga, bingung untuk meneruskan kemana setelah lulus.
37. Kelas dua SMA bisa dibilang lebih santai dari kelas 1 atau 3.
38. Drama yang seharusnya menyedihkan di depan kelas bisa saja menjadi acara komedi dadakan.
39. Jika anak-anak “pandai” membicarakan pelajaran. Anak-anak “bandel” membicarakan bagaimana caranya mereka bisa pulang lebih awal.
40. Doa jika ada jadwal ulangan. “Ya Allah, semoga hari ini pulang pagi”

Sumber : Kaskus